Kata demi kata menyusuri ruangan ini. Meluncur laksana air di dedaunan kala hujan. Senyap jiwa coba diobati dengan sesungging senyum. Namun hati merintih, menjerit. Mampukah jiwa bertahan dengan cita-cita ? Sudikah waktu menghormati perjuanganku ? Sampaikah masa dikala bahagia ?
Balada Karto Gembol (7)
Seorang narapidana napi bersiul-siul riang. Berdendang tentang cinta meski hukuman mati di depan mata. Detik-detik berlalu. Tersungging senyum di bibirnya Meski tak seberapa yakin dirinya akan Tuhannya
Balada Karto Gembol (6)
Mengendap Karjo Bakso dalam remang malam Berselimut gelap, cahaya hati tlah padam Disudut pasar, Karjo Bakso menunggu mangsa Preman pasar bajingan perebut pujaan hati, perengut harga diri, itulah targetnya tujuannya.
Balada Karto Gembol (5)
Karjo Bakso aku punya nama Ibu penjual pecel, bapak pengemudi praoto, dan itulah keluarga Meski hidup keras di kota, tapi semangat tetap menyala Walau status KTP bujang belaka
Balada Karto Gembol (4)
Engkau siapa ? Rumahmu dimana ? Apa Kerjamu ? Yakin kau dengan kehendakmu ? Pertanyaan-pertanyaan Wak kaji terus bernyanyi … Di telinga Karto Gembol yang jadi nyaris tuli …
ES Krim Ramadhan
Para sahabat dimanapun anda semua berada. Sepertinya sudah cukup lama tak kupersembahkan upeti sosial berbentuk tulisan kepada anda semua. Sebagai bagian dari masyarakat terdidik dan tercerahkan dari bangsa yang (katanya) besar ini. Bahkan tak kupersembahkan sebuah tulisan yang bagus untuk perayaan kemerdekaan ke 65 negara yang (katanya) kaya ini. Jadi.. izinkanlah hamba tuliskan sebuah kisah yang […]





