Belajarlah dari pohon..

1WM9D00Zpakdhe.. aku lagi ruwet nih, bisa ketemu enggak dikafet ?” ujar sms singkat anak muda itu tadi malam. Diantara belantara kode PHP, akupun terhenti. Tak biasanya anak muda ini meng-SMS dengan isi yang blak-blak-an dan bloko suto seperti ini. Biasanya dia akan memberikan semacam preview atau kata-kata simbolis untuk saling bertukar pikiran.

Umurku dan umurnya memang terpaut jauh. Dengan kepala tiga di waktu hidupku dikomparasi dengan kepala dua nya, sepertinya memang jarak 10 tahun bisa jadi memiliki makna tersendiri baginya. Namun jangan tanya soal ilmu. Dia lebih jagoan dari diriku sejauh 10 tahun mungkin. Ah.. bumi ini semakin cerdas saja mengupgrade nan mengkarbit ilmu seseorang jadi matang.

Kusiapkan mental diri untuk menerima segudang sampah hidupnya. Anggap saja ini semua hanyalah sebuah mekanisme balas jasa terhadap ilmu yang diberikan anak muda ini kepadaku. Ketimbang aku kurangi pahalanya diakhirat, mending aku tambah hak pahalanya dengan mengurangi sedikit beban dirinya. Meskipun beban diri ini juga ndak enteng, tapi jelas yang namanya menerima curhat adalah mekanisme sosial standard manusia.

pakdhe.. aku lagi ruwet kie.. ” ujar anak muda itu pagi hari dikafet ketika aku bertemu dengannya. “Ruwet nyapo maneh ? (ruwet apalagi -jawa red.-)” ujarku. “Jadi gini pakdhe, udah kurikulum menghimpit, lembaga mahasiswa ndak jelas arah geraknya, negara entah mo belok kemana, eh.. garapan-garapan proyekku juga mulai ikutan trend berantakan.. Kie piye ?

Anak muda ini memang cukup jagoan untuk anak-anak dijamannya. Segudang pengalaman organisasi tertera dalam proposal-proposal kegiatan. Sebagai dari pembantu umum sampai ketua pelaksana. Dari panitia tertulis maupun panitia partisipan sampai duduk dilemabaga mahasiswa.  Belum cukup dengan kegiatan itu, protes-protes dalam ruang kuliah mewarnai hidupnya, sehingga kadang lebih banyak nilai C menghiasi mata kuliah, karena tak mampu otaknya menurunkan diri, sejajar dengan para pendidiknya. Itu masih ditambah dengan menerima seabreg proyek dari kenalan-kenalannya. “Cari duit sendiri pakdhe, untuk sesuap nasi dan semangku berlian..” ujarnya ketika kutanya mengapa dirinya bekerja ketika orang tuanya masih mampu membiayai hidupnya.

Sejuta kasus hidupnyapun meluncur cepat dari bibir yang tak jauh dari dua hal : rokok dan kopi. Kekasih sejati para aktivis, begitu katanya dilain waktu. Separuh cangkir telah habis, dua tiga batang rokok mengakhiri ceritanya, yang sepertinya ndak bakal menarik untuk saya tulisakan disini.

Jadi gimana menurut pakdhe.. ajur tho hidup ini ?” katanya menutup dan menatap mata saya penuh harap terhadap pencerahan. “yo.. yo.. trus masalahmu opo ?” ujar saya sambil tetap juga klepas-klepus menghembuskan rokok. “Wah sampeyan iki piye tho ? Lha itu.. masalah saya tadi itu solusinya piye ? Harus ngapain saya ini ?” ujarnya ketus sedikit marah terhadap sikap cuek saya.

Lha gimana ndak cuek, lha wong kopi separuh yang diminumnya adalah kopi pesenan saya, dan dua tiga batang rokok yang dia habiskan juga satu pack rokok saya. Wah.. dasar mbelgedes bener sahabat muda saya ini. Huh.. untung saja umur saya sudah lebih tua duluan ketimbang dia. Lek ora, ya.. tak pisuhi dengan sejuta topan badai made in kapten haddock versi suroboyo.

Wis tho pakdhe.. apapun kata njenengan, tak turuti wes.. Pokok’e apa kata njenengan. Njenengan khan legenda..” Walah.. saya kok dianggep kayak merek sepeda motor. Dan ndilalah anak muda ini tau persis bahwa saia ini masih bisa dirayu khas junior pada seniornya yang merengek-rengek soal pembekuan lembaga mahasiswa.

Jadi begini, klo menurutku kok ya sebenarnya masalahmu kie sama saja dengan masalah-masalah lain di dunia ini. Masalahmu itu ndak jauh beda sama masalahnya si Ucup tukang koran itu, maupun masalahnya paklik SBY yang jadi presiden negeri ini..” ujar saya sambil nyruput kopi separuh, mumpung belum disikat habis oleh emosi anak muda ini.

Wah pakdhe.. klo saya disamakan dengan SBY sih oke-oke saja. Minimal podho karo presiden. Lha kok disamakan sama Ucup kie piye tho ?” katanya ndak terima.

Kemudian saya jelaskan padanya tentang hidup dan problematika kehidupan seperti ini :

Hidup itu harus belajar dari alam. Belajarlah dari pohon.. Mari kita lihat pohon disana. Dia berpijak pada bumi, mengakar dan tumbuh sampai pada titik tertentu harus berhenti tumbuh dan kemudian mati. Jangan dipandang bahwa dirinya ndak penuh dengan masalah. Dari mulai sinar matahari yang mulai susah dicarinya karena gedung kampus ini makin menutupi cahaya hidupnya, juga air yang cukup karena hujan sudah sering datang tidak pada saatnya.

Namun demikian pohon itu tetap berjuang untuk hidup. Dia tidak tahu, apakah hidupnya akan berhenti ketika batangnya baru dua, atau sudah beribu-ribu batang. Apakah umurnya akan setua pohon didepan FIA, ataukah akan secepatnya dipotong manusia untuk perluasan kafet tercinta. Tapi ya gitu, dia terus berusaha berjuang untuk tumbuh dan berkembang.

Dia berkembang tapi ndak pernah lupa kemana akarnya berada. Di dalam bumi, memeluk dan bercengkrama dengan pertiwi. Ndak pernah lihat pohon besar melayang tho ? Maka janganlah kita lupa dimana akar manusia kita berada. Saat ini dirimu sedang limbung nan bingung karena seluruh paradigma hidup yang engkau pelajari sedang bertolak belakang dengan realitas. Bahkan semua teori yang engkau pelajari seperti tertelan oleh permasalahan-permasalahan yang ada. Engkau jadi gupuh, bingung lalu limbung. Seperti si Ucup koran yang sering kadang-kadang masuk kafet sambil limbung dan kadang-kadang tersandung. Untungnya ndak pernah terjatuh. Seperti pak presiden yang sering bingung, tapi untungnya para pembantunya selalu siap sedia agar beliau ndak limbung.

Jadi anak muda, janganlah engkau bingung terhadap masalahmu. Setiap pohon akan terus berjuang keatas. Jika ndak bisa keatas langsung, maka dia akan belok sedikit agar masih saja bisa keatas. Cita-citanya akan tetap berusaha berkembang keatas. Siapkan batangmu untuk kuat dan kokoh sembari kau tancapkan akarmu erat-erat ketanah. Karena engkaupun tidak tahu sampai kapan waktu hidupmu berjalan.

Jadilah pohon rindang yang menaungi jalan. Jangan jadi rumput yang terinjak-injak tanah dan tinggal diam saja. Atau jika memang dirimu merasa bukan pohon besar nan tegar, maka tugasmu sebagai rumput adalah secepatnya menyebarkan benih-benih pikiran terbaikmu ke lapangan luas jagat raya ini, sehingga ketika engkau mati terinjak, disudut lain dunia ini, pikiranmu yang tersebar akan muncul kembali dan tumbuh.

Jadikan dirimu bermanfaat dan siap dimanfaatkan orang lain. Jika engkau merasa dimanfaatkan orang lain, dan kemudian engkau marah, maka sebenarnya egositas dirimu telah menguasai. Tanyakan pada jiwamu, apa yang lebih engkau pilih : manusia yang bermanfaat ataukah manusia tak berguna ?

Jika engkau sudah mulai merasa bahwa engkau telah memberikan manfaat yang banyak pada manusia yang lain, secepatnya pula bagian dari dirimu yang engkau cintai akan meminta haknya. Dan jangan engkau risau karenanya. Sebab itulah mekanisme alami untuk membuat dirimu tidak menjadi besar kepala. Maka berikanlah kepada orang-orang yang meminta haknya tadi. Berikan semampu dan sekuatmu. Jika telah cukup, kembalilah kejalanmu semula : memberikan manfaat kepada pihak lain.

Demikianlah sejatinya proses masalah dan tarikan-tarikan sosial dalam hidupmu. Adalah mekanisme alam untuk menyeimbangkan dirimu sendiri. Masalah datang karena memang berusaha untuk menjadikanmu kuat. Melatihmu. Membentuk setiap otot-otot kemanusiaanmu. Hingga saatnya tiba, maka masalah-masalah tadi tidak akan engkau laknat, tapi akan engkau rasakan sebagai nikmat.

Bukankah sebuah cerita jadi menarik ketika permasalahan timbul kepermukaan ? Bukankah sebuah film jadi enak ditonton karena sebuah cerita terjalin dari masalah-masalah ? Bukankah pohon-pohon membentuk diri dan berkembang berbeda-beda karena masalah yang coba mereka selesaikan ?

Selamat menikmati penyelesaian masalah anak muda.

Saya matikan rokok terakhir kedalam asbak, nyangklong tas dan saya tinggalkan anak muda tadi sendirian termenung sambil memandangi pohon didepan kafet. Semoga dia menemukan sendiri jawaban permasalahannya, dan semoga dia tidak lupa membayar segelas kopi yang tadi saya habiskan bersamanya.

(Malang, 24 Maret 2010)
(* pic The Sower, c.1888 by Vincent van Gogh taken from here)

...terbaca 78 kali...