catur alias skak alias chess

Seorang sahabat bertanya pada saya sore ini :

Sebuah pion musuh, bila maju sampai titik akhir papan catur akan berubah menjadi apa saja yg dia mau. Apakah mentri, kuda, benteng bahkan raja sekalipun bisa menjadi pion bila maju sampai titik yang sama ?

Ataukah sudah tugasnya ksatria, menteri, kuda, serta benteng untuk mempersiapkan diri untuk dimakan atau memakan ketika jarak garis akhir musuh makin mendekati dirinya ?

Bukankah ini semua adalah permainan belaka ? Ketika raja harus tetap berdiri diakhir permainan, sementara setiap tentara dan punggawa harus siap untuk tiada dan “ditiadakan”.

Aku bertanya padanya, apakah dia menyitir dan menyindir kondisi politik Indonesia saat ini ? Beliau hanya menjawab..

Bukan pakdhe.. bukan..tapi apa sih yg tidak bisa dihubung-hubungkan ? Apa juga yang tidak bisa diputuskan hubungannya ? Bukankah jalinan itu bisa putus dan nyambung seenak yang punya keinginan ? Bukankah setiap mahluk itu berhak menentukan bentuk hubungannya karena sejumput keinginan Pencipta yang tercitra dalam diri manusia ?

Wah…makin mumet saja saia mendengar pertanyaan sodara saia ini. Sudah makin cerdas dan pinter saja mahluk satu ini dalam menangkap dan membahasakan apapun yang diterimanya. Bahkan dalam kondisi kali ini, saya yg tampil bego dan bodoh dihadapannya.

Jadi bagaimana pakdhe ? Pakdhe paham khan maksud saya ? Saya yakin pakdhe ngerti dan tau jalan keluarnya…

Waduh… lha kok malah minta solusi… batin saya. Sambil nyumet rokok terakhir saya, saya berkata padanya :
“Setiap permainan ada aturannya. Setiap aturan dibuat oleh kesepakatan. Dan setiap kesepakatan bisa gagal karena kesepakatan juga. Jadi.. buatlah permainan sendiri, dan bermainlah sendiri. Jangan menikah silahkan onani. Jangan beragama, jadilah tuhan bagi dirimu sendiri…..”

“itu klo anda mampu lho ya…” ujar saya menghembuskan asap rokok yg terasa makin pahit saja akhir-akhir ini.

(malang, medio 16 April 2009, saat “makar apalagi yang kau rencanakan” muncul kepermukaan).

...terbaca 56 kali...