Tolong jangan ngisruh di loket pembayaran.

Kalo saat ini anda masih bingung dan e-yel e-yel an soal yel-yel,
soal hari-harian, soal jam-jaman, soal lari-lari pagian, soal
senam-senaman dan soal tawur-tawuran, mending anda kembalikan aja
wasiat pembinaan ini kepada penanggung jawab sebenarnya.

Ketimbang anda bingung nanti mau yel-yel apa, mending anda
kembalikan saja hak e-yel e-yel an itu kepada yang memang
lebih berhak menentukannya. Karena saat ini, anda sudah bukan
lagi manusia yang berhak menentukan seberapa lama anda mendidik
adik-adik anda dan dalam bentuk apa anda mendidiknya.

Dan andaikata sudah anda kembalikan amanah pendidikan tersebut
kemudian ternyata anda juga masih harus mendapatkan getah dari
keputusan itu, lebih baik anda pulang saja ke rumah orang tua
anda. Jangan lupa sungkem ke orang tua anda dan sampaikan ke
mereka bahwa anda seharusnya tidak masuk universitas ini saja.

Sepertinya para orang tua sepertinya lebih paham bagaimana
mendidik calon-calon pendidik anak-anak mereka sendiri.
Di didik dengan semua kemewahan sehingga tercukupi semua
kebutuhan, dan semoga mereka bisa bertahan dari segala macam
kemiskinan masa depan. Semoga adik-adik kita bertahan dari
miskin ilmu, miskin hati, miskin pekerjaan, miskin pengetahuan,
miskin kreatifitas dan sejuta miskin yang menghantui negeri
miskin ini.Sepertinya itu niat baik orang tua kita saat ini.

Sementara sebagai penengah dari sebuah keluarga besar, sudah
saatnya kita ndak usah ngesroh (‘mengutip kata-kata tersebut
yang kayaknya bakal ngetrend’) di dalam. Mari kita ngesroh di
luar saja. Soalnya didalam ndak perlu di kesroh udah kesroh
sendiri. Mari kita keluar.

Anda mau keluar sebagai sarjana ? Monggo..
Anda mau keluar sebagai drop out universitas ini ? Silahkan..

Lha wong banyak sedikitnya yang Drop Out,
tidak mengurangi biaya SPP ?
Lha wong semakin banyak sarjana,
tidak menambahi lapangan kerja ?
Lha wong banyak atau sedikitnya demonstrasi,
tidak membuat alumni kita menjadi menteri ?
Lha wong kalo’ alumni kita berhasil,
setiap datang kesini selalu saja diminta bantuannya ?

Paling enak itu ngesroh diluar.. Minimal dilempar batu sama
orang kampung. Kalo enggak ya paling diciduk polisi. Dan yah..
maksimum paling cuman mati ndak ketauan jasadnya. Lha wong
anda bergelar sarjana, insinyur, professor bahkan bekas
mahasiswa universitas ini sekalipun anda bakalan pasti dapat
gelar almarhum kok.

‘Tapi mbok ya kalo ngesroh diluar, jangan ngesroh yang di
dalam. Ngono ya ngono tapi jangan ngono..’ kata orang-orang.
Lah.. kalo sekarang ndak bole ngisruh, brarti trus harus nurut
terus gitu tah ? Wah..

Apa ya bapak-bapak diatas itu sudah siap suatu saat kalo sudah
tua nantinya bakal saya otoriteri ?
Apa ya bapak-ibu siap nanti anak bapak atau ibu saya otoriteri ?

Di universitas ini
Sudah tidak ada lagi paulo freire..
sudah tidak jaman lagi che guevara..
sudah tidak ada lagi linus torvalds..
bahkan sejelek bill gates aja, kayaknya ndak diperlukan..
Tidak ada lafran pane, tidak juga ahmad wahib. Ndak jaman lagi
Soe Hoe Gie.
Mari kita minta maaf dan memaksa akbar tanjung, pak amin,
Emha Ainun Najib, bahkan kalo perlu bung Harmoko kita pilih
kembali menjadi pemimpin kita. Andaikata Pak Harto masih cukup
kuat, ya gak apa-apa.

Mari kita menjadi universitas negeri yang sangat negeri.
Dimana setiap lulusannya menjadi pegawai negeri..
Dimana setiap alumninya hanya membantu negeri, sambil sesekali
ngelencer ke luar negeri..
Dimana mahasiswanya ndak usah ke perpustakaan, cukup ke
pinggir-pinggir jalan saja, soalnya di pinggir jalan nanti
akan berderet tukang terjemah bahasa asing yang akan membantu
anda dalam menyelesakan tugas-tugas mata kuliah yang hanya
mentranslate buku dan artikel saja.

Mari kita berdoa, semoga dengan niat membuat secepatnya
mahasiswa lulus, skripsi dihapus. Dan lagi, kok ya pas saat
karya-karya sekripsi itu lebih murah beli daripada bikin
sendiri ?

Mari kita bersantai-santai saja, karena di sekeliling kita
sudah banyak makanan-makanan cepat saji yang membuat kita
menyantap dengan cepat dan ya.. cukup bergengsi. Tinggalkan
warung mbok nah, pecel pinggiran dan apalagi nasi kucing.
Ndeso.. katrok…

Mari kita naikkan bandwidth internet, sehingga cukup download
saja film-film dari luar negeri. Tidak perlu membeli, apalagi
membuat sendiri. Biayanya mahal. Cukup di download, di burning
trus di tonton saja. Kalo perlu dijual lagi..

Sementara, siapkan sebuah surat bagi orang tua kita, bahwa
nantinya kita akan butuh duit lebih banyak lagi untuk melamar
kerja. Karena kuliah adalah investasi. Menjadi pegawai negeri.
Itu pasti. Atau bahkan menjadi pegawai perusahaan luar negeri.
Gaji Amerika, hidup di Indonesia ame Rina. Enak tenan…

Berikan perhitungan BEP dari kuliah anda kepada orang tua.
Yakinkan mereka bahwa dengan sekian juta uang anda dan sekian
lama, maka pada tahun kesekian anda bekerja semoga masih ada
sisa warisan anda. Kalo anda tidak mampu membuatnya, tenang saja,
di kiri-kanan jalan kampus ini akan banyak sarjana ekonomi
yang mampu merekayasa semua akuntasi anda menjadi pantas
dipandang mata.

Ayo kita tambah jurusan, tambah program. Sehingga makin banyak
manusia berjubel diruang kuliah. Dan semoga dengan teknologi
yang ada, tatap muka di tiadakan diganti menjadi tugas-tugas.
Masa’ kalah dengan universitas terbuka ?

Santai saja, anda cukup menyewa seseorang untuk setiap jam
matakuliah tersebut anda diloginkan. Ndak jaman sekarang titip
absen. Titip login. Itu masa depan.

Lembaga mahasiswa ? Wah.. itu jaman kuno. Ganti menjadi unit-
unit usaha dibawah fakultas, jurusan, bahkan universitas.
Minimal khan membantu tambahan investasi pendidikan tadi ?
Mumpung Negeri ini masih berdiri dan siap menerima bantuan
darimanapun dan sampai kapanpun.

Mari kita mengantri dengan tertib di depan loket pembayaran.
Mari kita serahkan sekian ribu, sekian ratus dan sekian juta
uang kita kepada sistem yang ada. Percayalah sistem ini akan
membantu anda cepat mencapai cita-cita anda. Pahamilah.

Kalau anda muak dengan semua tulisan ini, maka tolong, sekali
lagi tolong, jangan ngisruh di dalam. ngisruhlah di luar. Kalo
anda pingin ngisruh diluar, maka tolong, sekali lagi tolong,
ngisruhlah sekalian di luar negeri. Negeri ini sudah cukup
kisruh dengan tanpa bantuan anda. Tapi ya jangan salahkan saya,
kalo mau keluar negeri anda harus lulus di dalam negeri dulu.
Lha wong memang sistemnya dibuat seperti itu kok.

Atau.. kalo memang anda ndak kuat lagi, maka ada satu tempat
diluar sana yang ndak perlu anda lulus di dalam negeri ini.
Namanya akhirat. Itu tempat paling cocok kalo anda ndak bisa
diam di negeri ini, tapi pengen ngisruh.

Disana itu enak karena :
– Akuntabilitas terjaga karena petugasnya malaikat semua.
– Keadilan dijamin 100% karena yang mengadili Sang Maha Adil.
– Waktu studi tidak dibatasi, lha wong akhirat..
– Jumlah SKS disesuaikan kemampuan anda. Anda dosa berapa dan
anda punya pahala berapa itu adalah parameternya..
– Ndak pakai mbayar-mbayar, karena disana ndak ada mata uang.

“Bisa lulus enggak ? Lulusannya terjamin dan bisa masuk kerja ?”
…duh, anda ini bagaimana sih ? disana itu ndak ada mata uang,
jadi anda tidak perlu bekerja. Semua makanan tersedia. Yang
untung dapat makanan enak, yang ndak untung ya dapat makanan
yang ‘enak’ juga..

“Bisa download film enggak ?”
..wah, kalo anda ke fakultas yang namanya neraka, anda bakal
liat film action plus bokep langsung. Gimana ? Ndak usah
pakai
nyetel-nyetel di komputer lagi.

“lha.. anda gila ya ?”
..wah, hanya orang gila yang bisa mengenali orang gila.
Anda gila juga ?

“Wis.. wis.. buyar wae…”
Lho.. lho.. sabar.. sabar.. saya belum selesai ngasih infonya..

“Males.. males.. tak ikut kuliah semester pendek wae…” ujar
sang mahasiswa berlalu.
Dan saridinpun geleng-geleng kepala saja.

Itulah realitas di depan kita kawan. Dan kerasnya realitas
itu paling enak dihadapi dengan hanya satu cara yaitu tidur..

mari kita tidur..
tutup mata..
ambil nafas..
hembuskan..
ambil nafas..
hembuskan..
ambil nafas..
….

.

Inalillahi Wa innalillahi rojiun..
semua yang dari Allah kembali kepada Allah.

[saridin, satpam dan mahasiswa]

...terbaca 52 kali...