Kulewati jalan bebatuan dengan selingan rumput-rumput liar dikanan kiri jalan. Sejak aku kuliah, maka baru kali ini aku pulang. Diantara dua buah gunung besar pulau jawa. Saat pemakaman kakek. Ya.. sudah lebih dari sekian tahun aku tinggalkan desa ini. Dan sekali lagi kutinggalkan desa ini dengan sebuah harapan.. kutemukan kembali ibuku.
Ya.. aku terlahir tanpa kukenal jauh siapa ibuku. Hanya kenangan masa kecilku bersamanya yang tertinggal diingatanku. Kakek pun tak pernah berbicara tentang beliau. Beliau hanya bilang kalau Ibuku orang baik disaat yang tidak baik. Sedangkan bapakku.. sampai sekarangpun aku tidak tau siapa bapakku. Kakek hanya bilang, kalau bapak seorang laki-laki sejati. Sementara penduduk desa hanya bisa bilang, kalau aku anak seorang pembunuh…
……………
Suara pisau diasah berulang kali terus bertalu bersautan dengan suara degub jantung Kasni. Seorang suami, yang terus bersimpah peluh dengan terus menerus mengasah pisaunya. Tak kenal siang dan malam. Sejak surat itu datang tadi pagi.
Sebuah surat yang datang dari seorang istri, yang sejak dinikahinya 1 tahun yang lalu hanya berita itu yang diterimanya. Sebuah berita yang membuatnya mengasah pisau dapur kecil miliknya.
“Sudahlah Ni…,” ujar seorang kakek didekatnya. “Diikhlaskan saja.. itu sudah nasibnya.. Kamu yang sabar ya le…” tambah kakeknya.
Kasni menoleh sebentar kearah bapaknya. Tanpa ekspresi. Tanpa makna. Menghela nafas dan kembali tekun mengasah pisau itu kembali dengan sakralnya..
“Oala.. Gusti… salah napa to anak kulo…” ujar laki-laki renta itu lirih. Dalam hati Kusni cuma menjawab.. “Tak ada yang salah.. kehormatan tlah tumpah.. dan nyawa adalah jawabannya…”
Sebuah surat telah mengubah Kusni yang sumeleh menjadi pendiam dan pendendam. Sebuah surat yang mengabarkan.. bahwa istrinya terdampar di Gerbang 3 Sukarno-Hatta dalam kondisi mengandung seorang anak. Seorang jabang bayi yang bukan darah kandungnya. Tapi hadiah dari para juragan diluar negeri sana. Sebuah hadiah bagi seorang budak yang dibelinya dengan harga murah dari negeri miskin seperti ini.
……………
Sebelum meninggal, kakek berwasiat pada mbok Nah tetangga sebelah untuk menyerahkan surat ini kepada cucunya tercinta. Dan surat ini pula yang sekarang digenggamanku.
Kata demi kata kubaca kembali surat dari ibu kandungku. Yang kuingat samar-samar adalah wajahnya waktu aku kecil. Wajah ibuku memiliki tulang hidung yang ramping dan rambutnya yang lurus. Namanya juga singkat saja : Parmi, begitu kata kakekku. Ya.. Parmi.. itu saja.
kang.. maafkan Parmi. Nyuwun ngapunten kang.. Parmi khilaf. Parmi menerima akhibat dari kehendak Parmi sendiri. Parmi berharap dengan Parmi bekerja keluar negeri, itu akan mempercepat mbayar utang-utang kita. Itu akan membantu kakang membeli sepeda motor impian kakang.
Ternyata diluar negeri bukan impian yang Parmi terima kang.. Kang Kusni benar. Ternyata menjadi babu di negeri orang tidak seindah cerita Ijah, Warjo atopun kang Jamil.
Uang gaden sertifikat rumah kita, ternyata tidak bisa membayar ongkos pulang pergi dari sini keluar negeri. Ternyata uang itu hanya cukup untuk berangkat saja. Demi cita-cita kita, aku paksakan juga untuk berangkat keluar negeri kang.
Aku gak brani kang minta’ uang tambahan lagi, Aku takut, nanti kakang bakal minjem dari Kang Parjo yang lintah darat itu. Dan lagi.. kita masih punya hutang 2 juta untuk 100 harinya almarhum ibu. Jadi.. ya.. terpaksa, maafkan aku kang. Aku tetapkan hati meskipun tidak membawa uang simpanan untuk pulang kembali.
Aku makin yakin ketika teman-temanku sesama TKW ternyata juga banyak yang sama denganku. Hanya punya uang saku untuk berangkat saja kang. Maka aku putuskan untuk berangkat saja.
Aku lihat tulisan seorang wanita pemberani yang mengorbankan pernikahan awal tahunnya untuk berjuang demi masa depan yang lebih baik di negeri seberang. Kulihat disana sosok wanita pemberani yang lembut padaku menyapa. Meneriakkan perjuangan sekaligus kasih sayang. Sebuah ketegasan… sekaligus cinta kasih dan pengabdian pada suami, mertua dan keluarganya…
Dan kubuka lembar kedua dari surat perjuangan ibuku. Kembali dengan tekun aku baca kata demi kata kembali surat itu..
Malang tak dapat ditolak, dan untungpun tak dapat diraih kang. Maafkan aku.. Aku… sudah ndak pantas jadi istrimu lagi.. seluruh kehormatanku telah dirampas ketika juragan muda memperkosaku.
Juragan muda yang diawalnya bermuka manis.. ternyata tidak semanis awalnya. Dia hanya ingin tubuhku. Tubuh seorang babu dari tanah jawa. Maafkan aku kang.. aku tidak bisa melawannya. Aku diancam akan dibunuh. Beserta saudara-saudara sepupunya, aku dipermalukan selama juragan tua dan nyonya tidak ada di tempat sekian bulan kemarin.
Ketika hal ini aku laporkan pada juragan tua dan nyonya.. ternyata… Nyonya malah mendampratku sebagai orang yang tak tau diuntung. Dirampasnya seluruh surat jalanku dan tak dikembalikannya ketika aku sudah telat 6 bulan.
Maafkan aku kang.. nyuwun ngapunten sanget. Andaikata aku tidak ingat bapak dan kang Kasni, ingin rasanya aku putuskan saja hidup ini. Tapi.. ternyata tak ada waktu yang tersisa sejak aku melaporkan kejadian itu pada juragan.
Setiap hari caci.. maki umpatan bahkan tamparan menjadikanku bulan-bulanan mereka. Pintu gerbang rumah yang besar itu selalu terkunci. Dan kuncinya selalu di tangan nyonya maupun juragan.
Setiap kali pula.. ketika juragan muda yang laknat itu membutuhkan aku dan tidak ada orang dirumah, aku dipermalukan lagi…
Sebuah tetes air mata menghapus sekian kata-kata yang tak jelas lagi. Luntur, bersama lunturnya kehormatan, kebanggaan, harga diri dan cita-cita. Tak terasa.. air matakupun luluh diantara kedua mata ini. Kakek ternyata seorang yang tegar, tetapi juga kejam.. .Kenapa disembunyikannya semua ini ? demi apa ? demi aku ?
Dan sesak rasa didada ini kembali menyelimuti bahkan meskipun surat ini sudah kubaca berulang kali.
………………………….
“Kus.. kamu yakin mau berangkat ?” ujar seorang bapak pada pemuda didepannya. “Ya pak. Demi hutang yang tak mungkin kita bayar dari kebun dibelakang rumah. Bukankah setiap bulan bunganya saja sudah tidak mampu kita bayar ?” ujar Kusni sambil memasukkan baju-bajunya kedalam koper. Sebuah tiket penerbangan ke luar negeri beserta viskal dan surat-surat pengantar telah masuk ke kopor satunya.
“Kamu tidak menunggu anakmu lahir ? Apa kamu gak kasihan sama anak yang dikandungan Parmi ?” kata sang bapak mencoba mencegah anaknya. “demi anak itu juga pak. Anak itu butuh biaya sekolah nantinya. Tolong Bapak didik anak saya nanti. Saya yakin bapak bisa. Dan saya yakin.. kitapun bisa.”
Dibalik pintu, Parmi memegang perutnya yang sudah besar dengan elusan halus dan sedikit ratapan dalam hatinya. “Oalah le… nasibmu kok ya ndak ketemu sama bapakmu…”
“Saya brangkat dulu pak…” sambil mencium tangan bapakknya. Tak terasa ada genangan air dikelopak mata sang bapak. Sementara sang anak bernama Kusni mencoba menegarkan diri demi masa depan.. demi bapak, demi istri, demi anak. Sementara disisi lain, dibalik mata itu.. sekelebat bayangan api menyala.
“Dungakno aku yo nduk…” kata Kusni mencium kening istri tercintanya.
“Inggih kang..”kata Parmi sesenggukan tak bisa menahan keharuan..
“Assalamualaikum…” kata Kusni takzim melangkah keluar pintu.
“Waalaikumsalam…” ujar istri dan bapaknya haru…
Dipegangnya koper kecil itu. Sedikit disingkapnya kertas koran yang membungkus sebilah pisau. “Tunggu aku….” Ujarnya lirih dengan api dendam membara di kelopak matanya.
………………………..
Ditengah malam buta.. di sebuah keluarga di luar negeri. Sunyi. Sepi. Hampa. Seseorang terbangun terengah-engah. Sambil menghapus sisa darah dari pisau yang menancap dipunggung juragan wanita rumah itu. Diseretnya tubuh wanita gembrot itu ke ruang keluarga.
Didalam ruang keluarga bertumpuk mayat-mayat jadi satu. Sang juragan gemuk dengan kepala retak masih saja mengelurkan darah segar. Istri sang juragan gemuk digeletakkan melintang diatas sang juragan gemuk, bekas tusukan pisau masih memerah di gaun tidurnya yang mahal itu. Sementara seorang pemuda paruh baya terikat dipojok ruangan menangis tak berdaya. Dengan mata melotot dan mulut terbungkam. Melihat bagaimana ayah dan ibunya digletakkan didepan matanya. Berteriak, menangis tak berdaya.
Bayangan itu menari dikepala Kusni dibalik terali besi. Disebuah sel penjara tangannya terikat menunggu hukuman. Tak ada hukuman ringan untuk sebuah pembunuhan sebuah keluarga. Tak ada sesal. Namun juga tak ada gembira. Yang ada hanya ketenangan. Yang ada hanyalah ketentraman.
Masih jelas dalam ingatannya bagaimana ditunggunya saat yang tepat, ketika keluarga itu.. ya.. keluarga yang telah merenggut kehormatan istrinya, diincar dan ditunggu saat lengahnya. Dan malam itu… ya.. malam itu. Kewajiban telah tuntas. Kewajiban untuk membayar kehormatan dengan nyawa. Dengan pisau yang diasahnya dihari-hari dia menunggu kepulangan istrinya. Tidak dengan gembira tapi dengan api dendam. Setiap senti dari pisau itu adalah dendam. Setiap lekuk dari pisau itu adalah amarah. Dan semuanya terbayarkan. Dengan kematian 5 orang penghuni rumah itu.
Satu-satunya isak tangis dia hanyalah kenyataan bahwa, ada seorang anak laki-laki yang bakal tidak bisa melihat bapaknya. Satu-satunya rasa sesalnya adalah bahwa dia tidak bisa menghidupi anaknya lebih jauh lagi… tapi juga rasa bangganya bahwa dia baru saja mencontohkan kejantanan laki-laki sejati, pada anak yang tepat lahir di hari itu.
Didekatinya anak sang juragan. Dengan seringai di mulutnya dihujamkan pisau itu ke hati, ke jantung ke kepala dan ke sekujur tubuh itu. Darah memuncrat kembali tak beraturan menghiasi ruang keluarga itu dengan merah. Dengan darah. Dengan nyawa terakhir keluarga itu.
…………………………..
“Seorang TKI berinisial K tega membunuh sebuah keluarga di arab saudi” tulisan koran hari itu.
“Ini akan menjadi preseden buruk bagi pemberangkatan TKI kita !”, ujar bapak menteri disalah satu kolom wawancara di koran yang sama….
“Hukuman Mati bagi K tidak bisa dibatalkan oleh pengacara kita” ujar tabloid lain.
“Itu mah biasa saja… lha wong namanya dendam, Makanya.. jangan macem-macem sama orang jawa…” ujar tukang bakso enteng membaca koran-koran.
Hari itu. Kusni, seorang TKI tertangkap dan siap-siap menghadapi hukuman mati di tanah seberang.
Bumi berputar-putar seolah-olah pijakan kaki tak lagi ada dibawah Parmi, ketika koran itu sampai ditangannya. Aib yang dulu disimpannya rapat-rapat bersama kakek dan suaminya mau tidak mau tersingkap. Wartawan tak kunjung berhenti ke desa Kusni seperti air mata yang tak mau berhenti pula dari wajah Parmi kembang desa seberang yang menjadi istri Kusni.
Dan orang-orangpun menjadi tau bahwa aku… seorang anak haram dari negeri seberang. Bukan anak kandung Kusni, bapakku. Dan anak haramlah aku jadinya dimata kampung ini. Dan amarah itupun kembali turun dari bapakku kepadaku. Menggunung, membatu tak tembus air mata ibuku. Aku yang masih kecil tak bisa memaafkan begitu saja. Dan aku menjadi pendiam. Di sekolah, di rumah, di kampung. Aku hanya tau benci. Aku hanya kenal bahwa hidup disini susah. Dan jadi benci pula aku ketika suatu saat, aku pulang sekolah dan ibuku tak ada.
Kakek bilang ibuku pergi untuk mencoba membebaskan bapak. Aku mencoba menyusulnya keujung jalan desa, namun tangan kekar kakek tak melepaskan aku begitu saja. Beliau dengan sigap menangkap tanganku dan memelukku erat-erat. Teriakkanku berpadu dengan tangisannya.
………………………….
Perjalanan bis antar kota ini mengantarku kembali ke gerbang kampusku. Tinggal mengambil ijasah maka selesailah kuliahku. Jika aku kembali ke kampung, maka aku bakal menemukan mbok Nah sebelah rumah saja. Tanpa kakek, tanpa ibu dan pasti tanpa bapak. Sepertinya kematian kakek adalah perpisahan selamanya dengan kampungku.
Entah darimana asalnya, yang jelas sejak peristiwa itu, kakek sering memberiku uang yang lebih dari biasanya. Tanpa aku mengerti dan tanpa aku sadari, kakeklah yang terus menerus membiayai hidupku dan sekolahku sampai aku lulus saat ini. Kakek hanya berkilah bahwa ini dari kebun belakang. Atau kadang-kadang ketika kupaksa, kakek hanya bilang bahwa ini dari kerja keras kakek di sawah tetangga.
Aku tak berani menanyakan lebih lanjut, dan aku takut jika aku tanya terus menerus, kakek bakal kesusahan menjawabnya. Aku tidak mau kehilangan satu-satunya orang tuaku. Yah.. hanya beliau yang tersisa saat ini. Dan setelah kematian kakek, di saat wisuda nanti, tak ada orang tua yang datang mendampingiku. Hanya Rachel kekasihku yang mungkin bakal mendampingiku.
Aku mencintai Rachel karena rambut lurusnya mengingatkan aku pada ibuku yang lurus rambutnya, dengan hidung tirus dan kulit kuningnya. Meskipun Rachel agak gemuk, tapi wajahnya mirip dengan ibuku. Itulah yang menarik perhatianku.
Handphoneku berdering. Tertulis disana Honey. Panggilan sayangku untuk Rachel.
“Hello say.. sudah sampai mana nih ??” kata suara lembut disana.
“Lagi dalam perjalanan non…” ujarku lirih…
“Ow… lagi sedih ya yang… ? hihihihi” ujarnya tertawa centil.
Suara itu sering aku rindukan. Tapi itu adalah wanita pilihanku. Dan kadang aku terhibur dengan tingkah kekanak-kanakannya…
“Iya… iya.. tau.. ntar malem khan ultahmu. Iya deh.. ke diskotik ? hehehe. Iya deh.. mumpung bayaran menulisku kemaren masih ada…. Oke aja non…. Dandan yang cantik ya non…. Bye….. muach… “ kututup teleponnya dan bersiap untuk ulang tahunnya nanti malam.
…………………………………….
Dentuman keras lagu-lagu hip hop metal dan R & B terus-terusan bergema di ruangan ini biasanya. Tapi malam ini lagu lembut lebih sering mengalun. Namun dengan dentuman yang sama kerasnya. Rachel sering harus teriak di telingaku ketika dia ingin berbicara denganku.
Dunia malam, ya… dimana banyak wanita-wanita yang cantik bersliweran didepan mejaku, tapi hanya ada satu malaikat disampingku. Malaikat yang mengingatkanku akan cinta sejati seorang ibu. Matanya tidak sama, tapi rambut dan tulang hidungnya.. tulang hidungnya yang ramping mirip dengan tulang hidung yang menciumku kala aku kecil dulu.
“Makasih ya.. dah mo ntratir aku.. “ kata Rachel dengan keras di dekat telingaku sambil mencium pipiku.
“Sama-sama say…” ujarku…
Kulihat wanita cantik meja sebelah sedang dikenalkan oleh seorang laki-laki pada tamu diseberang. Seorang tamu gendut yang ntah dari mana. Sepertinya aku kenal wajahnya sekilas diantara kilatan cahaya lampu diskotik. Seorang pejabat kelas eselon II yang sering terlihat ditelevisi sepertinya.
Terjadi transaksi singkat, dan si wanita itu dengan manja sudah berpindah ke bangku disamping pak pejabat. Kuikuti langkah sang pemuda yang mengantar wanita tadi. Berjalan lurus, melewati meja-meja dan berhenti disebuah meja. Ada wanita lain disana. Setengah baya… tak kelihatan jelas karna terhalang tubuh sang pemuda. Sang pemuda menunduk dan membisikkan sesuatu di telinga wanita setengah baya yang masih berdandan ala anak muda masa kini.
Dan.. ketika sang pemuda itu berjalan pergi, kulihat wanita setengah baya itu… memiliki rambut yang lurus dan… dan tulang hidungnya mirip dengan…. Rachel… tapi… bukan.. wajahnya itu lebih mirip….. Ibuku !!..
Medio Malang, 30 April 2006 – 05:12
after on BB Cafe Malang
Anto
(* pernah diterbitkan di majalah ekpresi thn 2006an)
...terbaca 78 kali...