(Surat) Untuk para djendral

Para Djendral yang terhormat..
Izinkan ku untai kata menjadi kalimat sebelum engkau menjadi panglima tertinggi. Bukan maksud hati mengguri bahkan mengkoreksi. Hanya rasa jiwa yang ingin merdeka sebelum penindasan terjadi sekali lagi.

Para Djendral yang terhormat..
Masih hangat dalam relung ingatan tatkala kau perintahkan (langsung atau tidak langsung) untuk mengamankan kekuasaan dengan menculik dan menyembunyikan para pemimpin pemuda. Demi negara, bangsa atau mertua ? Entahlah..
Meski tak tahu aku nasib mereka dan kebenaran berita, namun semoga benar adanya bahwa lebih baik mereka “aman” daripada “hilang”. Apakah telah kau siapkan pengamanan yang sama untuk sekian ratus juta rakyat bangsa ini, jika sewaktu-waktu bangsa ini mengingkari Negaranya ?

Para Djendral yang terhormat..
Dengan langkah tegap tak berderak tanpa peperangan, engkaupun telah pernah memimpin bangsa ini. Dengan sejuta jurus dan seribu paradigam baru, kau ajak bangsa ini bersama menuju Indonesia baru.
Masih inginkah engkau mengajak kami melangkah kedepan sementtara kemalasan telah mendarah daging dalam jiwa kami ?

Para Djendral yang terhormat..
Aku mencoba memahami keinginanmu baik pribadi manusia maupun sebagai prajurit untuk meindungi, mengayomi. Tidak hanya rakyat, tapi juga Bapak Mantan yang telah berlalu mengundurkan diri itu.
Engkau coba untuk mencegah kekacauan dengan menahan gerakan mahasiswa dengan tameng dan peluru tajam. Demi negara, demi bangsa dan demi panglima tertinggi.
Namun..
Telah siapkah sejumlah peluru sebanyak prajurit dan segala perlengkapannya terhadap pengkhianatan Rakyat pada Negara ?

Para Djenral yang terhormat..
yang tidak sempat bertarung namun masih sempat membaca bahkan menulis buku-bukunya..
Izinkan kutanya pada diri sejati ini, apakah masih ada negara, bangsa dan tanah air ? Yang kami janjikan.. yang kami janjikan dan yang mengalir dalam jiwa raga kami ?

Negeri ini telah di pimpin oleh sekian orang besar sebelumnya. Dan masih saja makin membesar jumlahnya. Jumlah manusianya, jumlah hutangnya, jumlah penganggurannya dan jumlah-jumlah lain yang semoga grafik kemanusiaan masih mampu menampungnya.

Bahkan para pandita pun mulai menyanyikan lagu-lagu merdu halal-haramnya pemilu. Agar rakyat tak berkhianat selalu. Hanya patuh dan tau pasti, bahwa negeri ini masih abadi.

Entah rakyatnya, Entah Bangsanya

Para Djendral yang terhormat..
untuk menutup surat ini, izinkan aku mainkan satu lagu yang menurutku masih layak di dengar merdu dalam telinga ini…


Jangan bicara soal idealisme
Mari bicara berapa banyak
uang di kantong kita
Atau berapa dahsyatnya ancaman
yang membuat kita terpaksa onani..

Jangan bicara soal nasionalisme
Mari bicara tentang kita yang
lupa warna bendera sendiri
Atau tentang kita yang buta
Bisul tumbuh subur di ujung hidung
yang memang tak mancung

(Medio Malang, kafet 3 Maret 2009 -menjelang pemilu dan melihat geliat  para Djendral dalam pemilihan negeri. *song taken from Jangan Bicara – Iwan Fals)

...terbaca 56 kali...