Kebenaran pada Kerangka Prasangka Baik

Seorang pemulung berkurban kambing 2 ekor pada Iedul Adha tahun ini. Dengan menyimpan 1500an rupiah setiap hari, selama 3 tahun, akhirnya tahun ini beliau dapat menyumbang kambing. Demikian sebuah berita tertuturkan.

Yang menarik dari berita itu adalah apa yang akan anda lakukan ketika kalkulator terbuka di depan anda dengan berita diatas ?

Pendekatan pertama adalah (yg mungkin anda lakukan) adalah : anda masukkan angka 1500 pada kalkulator kemudian anda kalikan angka itu dgn 30 hari, 12 bulan dan selama 3 tahun. Maka anda akan mendapatkan angka 1.620.000,- Sebuah angka yg (seharusnya) merepresentasikan 1 (satu) ekor kambing. Bukan 2 ekor.

Pendekatan kedua adalah, memasukan estimasi harga kambing 2 ekor : 3jt, kemudian membaginya dgn 3 x 365 hari : +/- Rp. 2.739,- Sekitar kurang lebih 3 ribu rupiah setiap hari.

Apakah kedua pendekatan tadi memiliki perbedaan ? Diatas permukaan bisa jadi sama saja. Adalah pembuktian matematika dari proses yg telah dijalani seseorang yang patut diteladani. Dibawah permukaan ? hmm.. sepertinya ada perbedaan signifikan terhadap hal tersebut.

Cara pertama berpijak dari pengujian apakah benar bahwa hasil akhir (2 kambing) sesuai dengan data-data awal (berapa tabungan perhari). Cara kedua lebih kepada membalik cara pertama, dengan “mempertanyakan” benarkah angka perhari tabungan tersebut.

Dua pemikiran, dua cara tersebut sebenarnya sah secara ilmiah, tetapi sangat berbeda secara moral dan mental. Pada kerangka moral dan mental, cara pertama perpijak pada “ketidak-percayaan” pada kemampuan sang teladan. Sebaliknya pada cara kedua, berpijak pada “percaya” pada kemampuan, dan hanya membuktikan berapa realitas yg “diperlukan” utk mewujudkan hal tersebut.

Dia tidak mungkin naik haji, lha wong dia cuma satpam. Kalimat ini sangat berbeda dengan : Meskipun dia satpam, dia bisa naik haji dengan cara bla.. bla.. bla.. Kalimat pertama (analogi dari pendekatan pertama) lebih kearah berprasangka buruk. Kalimat kedua (analogi dari pendekatan kedua) lebih kearah berprasangka baik.

Jadi.. belajarlah meletakan kebenaran pada kerangka prasangka baik.

Namun demikian, cara “berprasangka baik” tersebut, sangat berbeda dengan pendekatan KARL POPPER yaitu FALSIFIKASI *).

Idul Adha, 27 November 2012

*) njur falsifikasi karl popper iku opo tho pakdhe ? #20190629

...terbaca 200 kali...