Suara Perubahan

Mendengar suara-suara tak berbunyi di seputaran kampus ini makin lama makin nyaring belaka gaungnya. Tentang BHPMN, tentang nilai-nilai, tentang LKMUB dan DEWAN TEKNIK, tentang perubahan-perubahan yang signifikan menghapus semua hal yang lama dengan hal-hal baru yang diharapkan akan sangat banyak membantu.

Suara-suara itu makin lama makin berbunyi meskipun tak terdengar. Laksana lolongan anjing dimalam hari yang kadang bisa jadi adalah fatamorgana dari pemikiran penulis belaka. Bisa jadi ini semua hanya halusinasi. Atau hanya sebuah ilusi. Bahkan sebuah fantasi. Yang pasti mengelisahkan hati.

Jika di kampus penulis merasa gerah resah dan gelisah dengan semua hal yang berhubungan dengan akademik (bukan karena sang penulis belum lulus juga dari kampus ini setelah sekian belas tahun), maka di ruang kamar penulis, dari tetangga sebelah rumah, jerit orang-orang mempertanyakan kemana minyak tanah dan susahnya memakai gas.
Tidak ada kenyataan yang nyata selain perubahan itu sendiri. Dan ketika perubahan itu datang, maka hanya orang-orang yang tidak siap berubah yang akan mengalami goncangan. Siapkah penulis dengan perubahan ? Sepertinya dengan hipotesa awal diatas, maka bisa jadi penulis tidak siap mengalami perubahan.

Kenapa tidak siap ? Bukankah penulis sadar bahwa perubahan adalah kenyataan ? Bahwa siapapun presidennya, menterinya, rektornya, dekan maupun kajurnya, maka perubahan akan pasti terjadi ? Bukankah tidak sama satu orang dengan orang yang lain sehingga wajar bila bangsa, negara, rakyat bahkan kurikulum serta peraturan-peraturan turunannya berubah jika orang yang berkuasa itu berbeda.
Maafkanlah presidenmu, maafkanlah menteri, rektor, dekan bahkan kajurmu jika perubahan yang mereka lakukan atas nama apapun menyebabkan dirimu gelisah. Kamulah yang salah, tidak siap dengan perubahan. Ingat.. keinginanmu bukanlah keinginannya (dan semoga keinginan mereka bisa jadi adalah keinginanmu).

Jangankan presiden atau menteri, bahkan ketika Sang Nabi sekalipun memberikan apa yang bisa jadi bukan keinginanmu, maka adalah kewajibanmu untuk menurutinya. Karena bisa jadi itu lebih baik bagi dirimu. Setiap penguasa memiliki hak untuk itu. Hak untuk otoriter.

Medio Malang, 28 Maret 2008.

...terbaca 57 kali...