APEL, POHON APEL DAN HUKUM NEWTON (2)

Ketika sebuah apel terjatuh dari pohonnya

Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir ini, karya-karya keteknologian terasa mulai pudar. Seperti warna apel yang terjatuh dari pohon, maka warnanya akan memudar dengan cukup cepat ketika tidak segera di petik dan dikonsumsi. Dari pojok sebuah kafet sebagai tempat paling tengah di lingkungan fakultas teknik universitas brawijaya, maka dapat diperhatikan beberapa hal yang memudar. Kafetaria FT demikian nama resmi tempat memandang. Dengan kacamata sekian jurusan yang ada disana, maka penulis mencoba mencermati warna-warni yang memudar. Ditemani secangkir kopi dan sejumlah rekan yang berbeda jurusan, penulis mencoba untuk lebih cermat dalam pembacaan keadaan kekinian lembaga mahasiswa.

Berikut ini beberapa yang dapat dilihat dari pojok kafet

1. Semakin banyak dan umum yang memiliki alat komunikasi bergerak (Mobile Communication / HandPhone), namun mencoba mengumpulkan sang pemilik HP adalah sebuah hal yang sangat menyusahkan.

2. Biaya Internet yang murah bahkan gratis, tidak membuat keilmuan makin berkembang, namun menjadi berkurang. Bahkan yang seharusnya internet tempat mencari referensi keilmuan, berubah menjadi tempat mencari temannya kawan dan kawannya pacar.

3. Bertanya menjadi sebuah hal yang lumrah, sementara mencari sendiri menjadi sebuah hal yang menyakitkan.

4. Jumlah motor (dan mobil) menjadi banyak dan apakah karena jumlah motor sangat banyak, sehingga mahasiswa jarang berjalan kaki dan menyebabkan kekuatan tubuh dalam berdiskusi,berkarya dan berkreasi menurun ?

5. Bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar dalam pendidikan. Bahasa Jawa menjadi bahasa umum keseharian. Dan bahasa Inggris adalah bahasa yang paling banyak ditakuti dan dihindari ketika menemukan manual, buku maupun referensi.

Dan andaikata seluruh daftar kejadian yang sangat menghibur di kafet dituliskan, maka akan sangat panjang jika dituliskan, dan tulisan ini hanya akan berisi paradoksial kehidupan mahasiswa yang menggelikan dan sekaligus memprihatinkan.

Sebuah kejadian paling besar yang sedikit membuat hampir semua civitas akademika (termasuk penulis) menjadi terfokus adalah perpindahan universitas ini menjadi BHPMN (Badan Hukum Pendidikan Milik Negara), serta dampak-dampaknya secara langsung dan tidak langsung yang terjadi. Dan dari titik awal inilah, penulis mencoba membuat sedikit survey untuk sekedar menguji hipotesa-hipotesa mentah diatas.

Untuk mengambil data mahasiswa satu fakultas adalah sangat tidak memungkinkan dilakukan oleh penulis dan beberapa rekan di sebuah pojok kafet. Sehingga dipilih satu jurusan saja yaitu Jurusan Teknik Elektro.

Sebuah jurusan memiliki 4 buah angkatan yang dianggap aktif. Dan mengambil data dari 4 angkatan diatas angkatan termuda di sebuah jurusan adalah juga merupakan hal yang sangat menyulitkan. Jika sebuah angkatan di sebuah jurusan mencapai berkisar angka 120 s/d 150 orang, maka 4×120 = 480 mahasiswa terambil datanya. Dan hal ini juga masih dirasa terlalu banyak. Dengan dana terbatas seadaanya dan semangat bukan 45, bukan 66 bahkan tidak 98, maka penulis dan beberapa rekan membatasi diri cukup 1 angkatan saja sejumlah 150 Mahasiswa.

Berikut ini adalah data jumlah responden yang berhasil didapatkan.

Keterangan

Jumlah

Waktu Pengambilan Data

Mei 2007

Target Responden

Sebuah angkatan Jurusan Elektro

Total Jumlah Responden

120 Orang Mahasiswa

Jumlah Quesioner Kembali

80 Quesioner

Prosentase

(80/120) x 100% = 66,66%

n Table: Data Responden Survey

Jumlah diatas bisa jadi sangat jauh dari kebenaran metodologis survey untuk menentukan nasib seluruh mahasiswa. Sebuah apologia muncul kepermukaan ketika metode penelitian sebagai mata kuliah terhapuskan pula pada titik kurikulum sekarang (2007 red.). Maka pisau bedah manalagi yang akan dicabut dari kemampuan analisa mahasiswa ?

Atau.. biarkanlah di dunia luar sana nanti kita tidak usah survey sendiri. Cukup kita bayar orang-orang dari jurusan statistik untuk melakukannya. Dan bahkan jika ternyata jurusan statistik dihapuskan, maka mari kita bayar orang-orang di luar negeri saja untuk menganalisa diri kita. Dan sambil kita di survey mereka, mari kita bersama-sama berdoa semoga apa yang dicari mereka sama dengan apa yang kita cari.

...terbaca 40 kali...