APEL, POHON APEL DAN HUKUM NEWTON (1)

KRITIK DAN OTOKRITIK TENTANG PENDIDIKAN TINGGI


Nguyahi segoro (menggarami lautan, jawa red.) demikian awal dibukanya pemikiran ini. Sebuah kesia-siaan seperti layaknya memperhatikan sebuah apel jatuh dari pohonnya. Dan kemudian sang pemerhati apel memperkenalkan diri bernama Sir Issac Newton. Berangkat dengan pemikiran apatis bahwa peserta didik tidak berhak ikut campur dalam menentukan ideologisasi bahkan tidak berhak menentukan kehendak negeri untuk mendidik bangsa ini, maka penulis mencoba nguyahi (menggarami, jawa red.) segoro (lautan) keilmuan perguruan tinggi negeri ini.

Adalah perbuatan yang sia-sia ketika kita ingin mengubah sesuatu yang memang tidak bisa berubah (atau tidak ingin berubah) dicoba untuk dirubah. Namun Tuhan menciptakan garam yang bisa ditabur ke lautan bukan untuk kesia-siaan belaka. Karena lautan menyediakan garam lebih banyak untuk kemudian diambil manfaatnya bagi setiap umat. Dan sejumput garam tulisan ini semoga tidak membuat asin lautan kehidupan pendidikan kita bahkan membuat asin hati para pembacanya.

Biru warna laut sebiru lambang warna fakultas ini. Luasnya lautan seluas para pemikir dan langkah-langkah para civitas akademika di dalamnya. Namun demikian semakin banyak hewan di lautan, semakin sedikit jumlah populasi mahluk langka bernama aktifis. Semakin banyak penambahan dosen dan mahasiswa, semakin kita menjauh dari menghasilkan sebuah karya sebesar hukum Newton tentang gravitasi tadi.

Newton hanya memerlukan sebuah apel yang jatuh untuk menganalisa gravitasi. Sementara banyak hal berjatuhan di depan kita, dan penulis tidak menghasilkan satu hukumpun karena jatuhnya banyak hal tadi. Semoga Tuhan tidak menjatuhkan matahari kebumi agar penulis sadar dan menemukan hukum tentang Kebenaran Semesta ini.

Tulisan ini berisi semua pemikiran penulis tentang pendidikan tinggi. Sebagai sebuah oleh-oleh dan buah tangan dari proses melihat, mendengar dan merasakan. Meskipun penulis harus mengakui kebutaan, ketulian dan matinya rasa yang dirasakan saat ini. Ditengah derasnya informasi yang bisa di dapatkan, maka seperti mati dalam lumbung padi rasa di dada ini. Semua bisa dicari, dibaca. Namun semakin dibaca, semakin bodoh otak penulis dalam merumuskan pendidikan. Semakin banyak air lautan terminum, semakin haus rasanya. Dan sudah saatnya semua minuman di perut penulis perlu dikeluarkan agar tidak hanya menjadi hasil sekresi saja.

Tulisan ini dibagi menjadi 3 bagian besar yaitu : Hasil Survey Lingkar Studi Pojok Kafet yang berisi analisa sederhana dari proses pencarian kondisi kekinian mahasiswa tentang pendidikan, Pojok Kafet yang berisi kondisi global lembaga mahasiswa, Kritik dan Otokritik Pendidikan Tinggi. Tiga bagian tadi merupakan proses apel, pohon apel dan analisa dari hukum gravitasi newton yang coba dijadikan dasar pemikiran yang penulis buat dalam merangkai semua gambar kehidupan pendidikan tinggi.

Selamat menikmati buah apel yang bukan buah pemikiran terbaik yang bisa diberikan penulis. Semoga menambah sedikit garam dalam lautan pemikiran para pembaca sekalian. Mohon maaf bila terlalu asin atau bahkan apelnya berulat. Semua hanyalah karena keterbatasan penulis sebagai manusia yang mencoba menuliskan ilmu alam dalam perspektif ketidak alamian, kemanusiaan yang sangat jauh dari kesempurnaan Sang Pencipta. Semoga tulisan ini diawali dengan keapatisan dan ketidak tahuan dan diakhiri dengan pengakuan ke kerdilan manusia dalam memandang alam sebagai ciptaanNya.

Medio Malang, 25 Oktober 2007

Penulis : antoub@yahoo.com

...terbaca 47 kali...