…lalu kita pertarungkan hak dan kewajiban
dengan pedang kata dan kekuasaan, kita hujamkan egositas kita
pada tanah
pada air
pada udara
…lalu kita makan daging-daging sesama
dengan lembaran-lembaran kertas dan sederet angka dalam tabungan kita
pada tanah
pada air
pada udara
kemanakah hati ???!!! kemanakah damai ini dibawa pergi ???!!!
dengan lantang kubertanya
pada tanah
pada air
pada udara
dan kutorehkan kata-kata untuk meredam amarah jiwa
dan kubacakan sajak-sajak tak berima tuk menghibur rasa
…lalu waktu bergerak tanpa peduli celoteh anak manusia
yang selalu haus dan lapar
pada tanah
pada air
pada udara
yang jelas-jelas bukan hak miliknya
(Malang, 30 Januari 2010. -ketika hati gundah penuh amarah- )
(*pic taken from http://moomba2.deviantart.com/art/The-Elemental-15600244)

bila api menghanguskan jiwa, maka takkan ada makna disetiap daya..
tanah telah padam
air telah kering
udara telah vakum
akankah tiba saat dimana tak ada lagi:
perbedaan?
pertarungan?
perlawanan?
penggusuran?
dilema?
dan saat pertanyaan itu tiba..
akankah kita bertanya pada:
tanah.
air.
udara.
@rio :
saat itu tiba, waktupun berhenti dan engkau tidak bertanya
tapi engkau harus menjawab pertanyaan-pertanyaan.
man robbuka …