Hidup itu mulai (gak) asyik

Laki-laki itu kutemui berada di warung kopi. Dibelakang pilar, di meja yang cuma berdua, dipojok sana. Awalnya aku pikir dia orang lain. Kuperhatikan secangkir kopi di depannya yang sudah habis setengah, dengan beberapa gelas kopi yang kosong, serta satu pak rokok bergambar gudang ukuran 16. Ya.. jelas itu orangnya.

Orang ini sudah lama menghilang. Ada kabar angin yang sampai, bahwa beliau sudah menikah, punya anak dan hidup di ujung Swarnadwipa. Katanya teman-teman dia aktivis, pegiat kelembagaan. Katanya orang-orang juga, dia juga jago dalam masalah IT dan punya segambreng keahlian-keahlian unik lainnya. Orang-orang memanggil pakdhe padanya.

Sudah lama tak kudengar kabar darinya. Sudah sekian tahun lamanya tak kulihat ia dan keunikan-keunikannya yang memberi warna. Ada yang bilang, ia jadi pegawai. Ada yang bilang juga ia tetap jadi programmer. Ada juga yang bilang ia jadi pendeta. Lho.. bukannya dia muslim ? Mungkin dia menyepi sehingga tak pernah terdengar kabarnya? memangnya dia Hindu ? ah entahlah.. Lha wong dia pernah dituduh kafir di salah satu kajian Islam. Kalaupun bertapa, bisa jadi sih. Khan dia lahir di jawa.

Ingin kudekati dia dan bertanya kabarnya. Namun sepertinya dia sedang tidak ingin berbicara. Dari mulutnya hanya keluar asap rokok dan tak sesungging senyum tergaris dari wajahnya. Beberapa kali kulihat dia memijat kepalanya seperti berfikir keras. Entah apa yang dipikirkannya ? Sebuah filosofi hidup baru mungkin ? Atau hanya gatal saja ? Entahlah..

Dia pernah mengajariku banyak hal. Membantuku pada banyak hal lain. Bahkan menantangku untuk menjadi seperti dirinya. Kami dulu berteman akrab, tapi jarak dan waktu sudah sangat memisahkan kita. Kangen ? ah.. entahlah.. Banyak hal juga yang mengecewakan darinya sebelum dia menghilang.

Dia sedang sibuk mengetik saat ini. Sebuah bolpoint, secarik kertas. Laptop dan kopi serta tak ketinggalan rokok. Barang-barang itu tak pernah jauh dari dirinya. Sepertinya dia sedang menulis sesuatu. Semoga saja karyanya mulai bisa muncul lagi dipermukaan. Lumayan pengobat rindu terhadap sosok satu ini. Tulisan-tulisannya menarik, meskipun sangat sering absurd dan tak kupahami.

wpid-img_20150409_100749.jpgSepertinya tinggal sedikit lagi ketikannya selesai. Di panggilnya pelayan utk membayar ongkos kopi dan makanan yang dipesannya. Dituliskannya sesuatu di secarik kertas. menyobeknya dan meninggalkan catatan kecil di meja. Bergegas dia pergi sembari menyapukan pandangan ke semua arah. Untung aku agak jauh darinya yang sudah rabun. Dan diapun pergi.

Sepertinya menarik utk membaca coretan di kertas yang ditinggalkannya. Bergegas aku menuju ke bekas mejanya, dan berharap kertas itu tidak dibersihkan oleh pelayan. Kulihat tulisan tangannya yang masih susah dibaca itu, kemudian membacanya perlahan.

Hidup itu mulai (gak) asyik teman.
Waktu samadiku sudah habis.
Saatnya dirimu ….

Medio Banda Aceh, 12 Mei 2014