Selamat Pagi Semua

Ijinkan penulis sumbang sedikit cerita yg tak seberapa ini kepada khalayak agar dikemudian hari kebodohan-kebodohan yang sama tidak terjadi pada anda semua. Dan kebodohan penulis dalam menangkap matra yang ada tidak mengurangi nilai cerita yang sebenarnya.

Cerita ini berawal dari jaman dulu kala, ketika seorang anak muda melihat bahwa dunia bergerak dalam pusaran waktu yang menghisap cepat. Menjadi apa diri ini, begitu kira-kira kata anak muda kita ini dalam hatinya. Dengan keluarga yang tidak seberapa punya, tapi cukup sahaja. Masyarakat kelas menengah di kerajaan berselimut demokrasi dimana togel, porkas, nalo dan SDSB adalah impian sejati dan harapan masyarakat.

Sebuah tabloid komputer lama memberikan informasi tentang pergerakan dunia lain bernama komputer. Menjelaskan satu-satu apa saja lahan kerja dan karya yang bisa direngkuh dalam dunia baru itu. Dari mulai operating system, database analyst, system analyst, business analyst dan segambreng kata analyst yang entah dimengerti atau tidak oleh anak muda satu ini. Yang jelas kata-kata itu terekam sebagai sebuah memory kuat sebagai sebuah kata yang.. keren.

Semua judul, jabatan dan fungsi dijelaskan dalam tabloid tersebut tentang dunia komputer, software maupun hardware. Dan mata anak muda itu terantuk pada satu kolom kecil dari setiap kolom besar dari tabloid tersebut. Sebuah kolom yang menjelaskan tidak panjang lebar, hanya sekilas saja tentang jabatan bernama System Analyst. Meskipun kolom itu kecil, tapi anak muda satu ini membaca berulang-ulang kolom tersebut. Mungkin memang sangat bodoh otak anak muda itu, sehingga yg sedikit saja tidak mampu dicerna tempurung kepalanya. Aku akan jadi ini, begitu kira-kira hatinya menetapkan pikiran.

Mari kita percepat waktu, hingga anda tidak terlalu bosan membaca ini, dan penulis tidak terlalu lelah mengetikkan cerita yang ada. Dan akhirnya waktu berjalan dengan pongah, anak muda ini tidak lagi berseragam sekolah, menjadi berpakaian bebas dengan jas almamater nan indah. Kemudian title System Analyst dipundaknya tertancap. Dari team kecil, dipercaya mengelola system sekolah.

Apakah dengan impiannnya itu, maka selesai cita-citanya.

ternyata tidak wahai pembaca semua.

Laksana air laut yang tak bisa menghapus dahaga,
Laksana langit yang juga tidak terbatas luasnya,

Ilmunya ternyata tidak cukup menyelesaikan segala masalah yang ada.

Sama seperti tulisan ini, yang ternyata hanya bisa dibuka, maka menutup cerita tak semudah membukanya.
Sama seperti impian anak muda tadi, ternyata setelah dibuka pintu pilihannya, makin luas dunia yang harus dijalaninya.
Sementara impian kenyamanan hanya jadi impian belaka
Sementara kenyataan terus menderu bersama waktu

Dalam susah bimbangnya, dibuka sebuah aplikasi chat, dan bergabung dengan room yang ada. Disapa satu-dua yang dikenalnya, dan kemudian bertemulah ia dengan salah satu memory masa lalunya.
*……..
Pandyakira : Hoi.. kemane aje lu…
Baginda : not anywhere. Just in here. Kenapa bro ?
Pandyakira : Gpp, iseng aja. Elu lagi ngerjain apa ?
Baginda : 🙂 masih tetep. Jualan. Elu sendiri, masih coding ?
Pandyakira : Tau ah.. lagi butek nih pikiran gw.
Baginda : Kenapa ? Mentok diantara belantara kode lu ?
Pandyakira : kekekeke.. tau aja lu.
Baginda : Udah tau bahasa pemrograman dan dunia IT berkembang, elu masih saja tetap menggapai impian itu.
Pandyakira : Lha.. emangnya kenapa ? Punya satu mimpi, ya dipegang terus. Jadiin pegangan hidup. Ya tho ?
Baginda : hmm… itu masalahmu. Dirimu masih saja memegang masalah itu, sementara dunia ini cukup kompleks untuk dijawab hanya dengan satu jawaban.
Baginda : Let’s say like this : apakah seorang pendekar satu jurus mampu jadi pemenang dalam pertarungan ?
Baginda : sementara kuda-kuda ilmumu masih belum kuat, engkau sudah menenteng juluk, menyandang gelar dan kemudian memanggil diri System Analyst.
Baginda : apakah itu tidak berarti dirimu takabur ?
*…..
Pandyakira : Hei stop there!!! Gw gak pernah dan gak merasa seperti itu.
Pandyakira : sekian jalur ilmu yang ada, kemudian aku pilih satu bahasa pemrograman dan kemudian bergerak dengan itu. Apa yang salah dengan itu ?
Baginda : yang salah ? ya.. yg tadi gw bilang : masalah dunia ini terlalu kompleks dengan hanya satu bahasa.
Baginda : elu masih ngerokok n ngopi sambil coding khan ?
Pandyakira : Apa hubungannya ?
Baginda : Sementara elu gak sadar, bahwa makin sedikit ruang bebas merokok, dan makin banyak ruang bebas asap rokok ?
Pandyakira : tru s ?
Baginda : that’s reality man. Dengan behaviour rokok dan kopimu yg engkau pertahankan laksana kembang dan menyan pendeta, engkau tergusur oleh jaman.
Pandyakira : hmm….
Baginda : get up, stand up and look into it..
Baginda : you’ll fall to the deepest ground if you insist on it too much.
Pandyakira : emangnya gak ada tah pekerjaan untuk seorang system analyst di masa depan ?
Baginda : hehehee.. ada sih.. masih ada, masih banyak dan terbuka. Tapi tetap tidak bakalan sama dgn tabloid bututmu itu.
Pandyakira : apanya yg tidak sama ?
Baginda : bahwa analisa tidak lagi bernilai tinggi. Bahwa masalah utama tidak pada System yg perlu di analisa. Tapi pada Peoplenya. Man Behind The Gun.
Baginda : bahwa money as main part of it juga jadi problematika. Sehingga wheter or not, you’ll end up on nothing but an industrial machine. That generate (to general) system that can’t satisfy any-more and any-body.
*……
Pandyakira : Asyem ….. 😛
Baginda : Wkakkwkwkwkw
Pandyakira : apa elu pikir gw pelacur yg harus satisfying anybody gitu ?
Baginda : nah.. elu sendiri sudah bertanya hal itu. Yups. Dirimu akhirnya berada pada titik yg sama dgnku khan ? kekekeke
Pandyakira : Asyu… dasar germo muka badak…
Baginda : No.. we’re not talking about me right ? hehehehehe…
Pandyakira : oke, let’s say gw berada sama pada levelmu : menjadi pelacur. tapi gw lebih punya ilmu dibanding elu.. 😛
Baginda : wklalaklakakak
Baginda : pelacur, dimanapun, akan berhenti di usia menopousenya.
Baginda : berhenti jadi tukang pijet panggilan yg tuwir, atau jadi temen malam tukang becak untuk satu-dua sepongan dowank.
Baginda : atau pulang kampung, jadi babu
Pandyakira : hahaha… emang pengalaman dah lu klo masalah lendir..
Baginda : dan itu mirip juga ama duniamu entar..
Pandyakira : maksudnya ?
Baginda : you’ll end infront of a computer. tidak jadi System Analyst yg kamu cita-citakan, tapi jadi tukang koding yg menerima pembuatan situs-situs dowank. Dengan Engine yang udah jadi, elu sepong client lu. Klak-Klik dikit, jadi deh website.
Baginda : otakmu jadi menopouse, lu males mikir dan berhenti di titik itu.
Baginda : or worse partnya..
Baginda : kamu pernah bilang punya generator script. Generate dikit, jadi aplikasi.
Baginda : padahal dengan jalan itu, dirimu tidak jauh dari dunia sepongs-bob tadi. kekekekekke
Pandyakira : wakkakaka…
Baginda : Sebenarnya dirimu males mengetikkan jari-jarimu. Dirimu mulai sering tersesat diantara logika-logikamu sendiri khan ?
Pandyakira : bisa aja lu..
Pandyakira : yups.
Baginda : sementara alih-alih nemu generator, dirimu tidak jadi apa-apa. Bahkan cuman jadi pelacur akademik dengan mengerjakan skripsi anak kuliahan tho ?
Pandyakira : wkakakakak…
*……..

Mari kita hentikan sejenak mengintip anak muda dan teman masa kecilnya itu berbicara. Terlalu banyak kata yang seharusnya disensor dan tidak jadi bacaan mendidik untuk diceritakan. Lebih enak membaca komik-komik kho ping ho dan wiro-sableng ketimbang membaca itu semua.

Mari kembali ke realita, karna hari akan berganti
dan cerita mengalir dari pelupuk mata dan semua indra

Dan setumpuk tugas telah menanti
untuk dibereskan
ini hari.

Medio Jakarta, 21 Sept 2012