Plak

… di sebuah kafe.

… di meja nomer 1

“kamu pikir apa hanya kamu yang pusing. Aku belum siap dengan kehamilanmu..” ujar seorang pemuda sambil mengernyitkan dahi.

“Tapi.. ini khan perbuatanmu..” ujar wanita didepannya sengit.

“Din… kita masih kuliah, aku masih belum siap menikah saat ini. Kita perlu persiapan. Ayolah.. ikuti saranku. Kita gugurkan saja..” ujar pria didepan sang wanita bernama Dini.

“Jo.. kamu memang laki-laki yang tidak bertanggung jawab… “ ujar Dini lirih.

“Apa ?” kata laki-laki yang ternyata bernama Pujo itu dengan sengit.

“Apa kamu pikir hanya aku yang menggauli kamu.. Bukankah dulu juga sudah banyak yang meniduri kamu sebelum aku jadi pa…”.

Dan belum sempat kata-kata itu selesai. “Plak..!!!” tamparan keras dini menyudahi pembicaraan itu.

Dinipun berlari sambil menangis meninggalkan meja 1.

..di meja nomer 2

“Hallo.. iya tante.. oh.. iya… kapan tante.. ic.. di hotel biasanya.. jam berapa tante ?… oke.. ntar malem ic.. oke deh tante..” seorang pemuda menerima telepon dari seseorang.

“Plak..!!!” suara tamparan wanita di meja sebelah menghentikan sejenak pembicaraannya. “Oh.. iya.. iya. Sorry tante.. anu.. hihihihih.. anu.. ada cewek nampar cowok di meja sebelah. Iya tante.. Sony tau diri kok… Masalah biaya.. gampang lah itu tante.. kayak biasa aja. Ya.. klo nginep ya setengah jeti lah… Apa.. ? Oh.. iya deh… “ ujar pemuda tadi yang ternyata bernama Sony dan kembali melanjutkan pembicaraan setelah melihat peristiwa disebelah sana.

“Oke tante, see you tonight. I hope you still had your red lingerie that turn me on. Hahahaha.. see you tante..” kata pemuda bernama Sony itu menutup telpon dan segera bergegas keluar dari kafe.

..di meja nomer 3

“Plak..!!!” suara itu mengagetkan seorang gadis yang sedang sibuk menulis surat. Tulisannya terhenti. Disapukannya pandangan ke segala arah mencari sumber suara tamparan tadi. Terhalang tembok, tak bisa dia melihat adegan di meja nomer 1, diambilnya jus melon didepan mejanya yang setengah habis dan diminumnya untuk kemudian kembali menulis surat..

Pada dasarnya, aku juga mencintaimu, namun aku tidak yakin dirimu mau menerima diriku. Aku sangat-sangat kotor. Aku tahu kalau orang tuamu sangat berharap aku menjadi pendampingmu.. tapi.. aku tidak yakin bahwa kamu siap menerima diriku..

Mungkin kamu sudah pernah mendengar dari teman-teman sekitarmu bahwa.. aku sering terlihat di hotel-hotel… atau aku bersama seorang lelaki yang mungkin tak dikenal olehmu dan teman-temanmu..

Ya.. dugaanmu benar, aku pelacur. Yah.. itulah hidup yang aku pilih dan aku hadapi saat ini. Ningratnya keluargamu atau bahkan dengan diangkatnya ayahmu menjadi menteri akan membuat diriku menjadi serba salah jika kita teruskan hubungan kita. Please.. maapin aku..  Aku mencintaimu.. tapi.. aku juga harus hidup.. dan aku tidak bisa mengharapkan terus menerus bantuanmu..

 

Maafkan aku sayang.. aku harus memutuskanmu..

Demi aku..

Demi kamu..

Dan demi keluargamu..

 

Peluk cium dari mantan kekasihmu yang kotor..

Rena

Baris-baris kata itu mengalir dengan deras dari tinta ditangan wanita bernama Rena di meja itu. Direguknya kembali jus melon sebelum dilipatnya kertas surat berwarna biru itu dengan rapi. Dengan hati remuk redam dimasukkannya kedalam amplop berwarna biru dan dituliskannya sebuah nama disana.

“Untuk Pujo tersayang”

..di meja nomer 4

Seorang pemuda paruh baya duduk menghisap rokoknya. Didepannya tertulis angka-angka nominal sebuah barang.. “hmm… kayaknya untuk mikroskop dan perlengkapan laboratorium ini ndak bisa di mark up deh.. Aha.. bagaimana dengan ini…” ujarnya dalam hati. “Plak..!!!” suara itu mengagetkannya dan membuatnya menoleh keasal suara. “ups.. ditampar..” pikirnya. “ah…si pujo lagi ternyata.. ckckckc.. tidak kapok-kapoknya anak itu berpetualang… ” kata pemuda tadi.

waduh.. tadi yang mau di mark up yang mana lagi ya.. “ bisik pemuda tadi bingung. “wah.. sial.. gara-gara si pujo, proposal ini jadi berantakan..” kata Suprapto diam. “huh.. kemaren pujo sakit kelamin.. trus Rena, terpaksa mengugurkan kandungannya yang ke.. berapa kali ya… ckckckck. Untung saja keahlianku sebagai dokter muda masih cukup handal dengan perlengkapan seadanya. Yah.. lumayan lah… dengan perlengkapan yang ada saat ini kayaknya bakal tambah sulit aku meminjam perlengkapan dari lab kampus hihihihi.. Oke. Good bye lab kampus.. selamat datang laboratorium medis dokter Prapto hahahaha… “ kata Suprapto dalam hati.

oke.. kayaknya masih ada profit dari penyewaan rumah.. dan.. operasional awal.. kayaknya tidak perlu aku revisi lagi. Tinggal tunggu saja apakah Tante Mira bersedia membiayai ini semua ato tidak. Moga-moga saja bersedia..”, tukasnya dalam hati sambil membuang puntung rokoknya kebawah meja dan membenahi berkas-berkas dimeja.

..di meja lain disebuah kafe yang lain..

“hallo.. Sony ?… Aku kangen lho sama kamu… Aku di kotamu lho… Kamu mau gak nemenin tante malam ini…? Dimana aku bisa ketemu kamu ?… Jam 21.00 ya.. biar temen tante pergi dulu… Ntar malem doonk… tak tunggu lho ya…” Ujar seorang tante paruh baya dengan memainkan pena diatas tumpukan kertas dimejanya.. Disana tertulis sebuah nama : Dr. Mira Miharja Md.

Matanya sibuk mengawasi deretan angka dari sebuah proposal yang baru saja diterimanya kemarin pagi. Sebuah proposal kerjasama pendirian laboratorium medis. Dengan jabatannya sebagai wakil deputi kesehatan sebuah kota besar, maka adalah mudah bagi dirinya untuk sedikit menambah uang lewat investasi sekaligus korupsi.

“Plak..!!!” suara buku terjatuh ketanah dari sebuah meja di kafe itu. Diliriknya sebentar asal suara dan kembali memanggil teman bicaranya diujung telepon sana… “Son.. son.. kok diem sih… Ow.. ada yang ditampar ? ckckckc… kamu jangan ikut-ikutan lho ya.. bagaimana dengan biayanya.. Gak bisa ditawar Son..? Ya.. itung-itung langganan sendirilah.. hihihihi… “ ujarnya sambil tersenyum simpul. “ya deh.. gak apa-apa segitu. Hihihi.. hihihihi… Ih.. suka’nya kok menggoda gitu ya… Oke.. Bye.. muach…” Ujarnya menutup telpon.

Dibukanya proposal itu kembali.. dihitung-hitungnya lampiran-lampiran pendanaan. Dibacanya kembali kartu nama yang terselip diantara proposal itu. Dr. Suprapto. Hmm.. dokter muda dari universitas yang sama dari tempatnya dulu kuliah… ic..

Sebuah sms masuk ke handphonenya.. dibacanya sekilas isi sms tersebut. “mom.. aku butuh uang untuk biaya skripsiku. Sekitar satu setengah jeti bisa gak mom. Balas ya mom. Lov you.” Begitu isi smsnya. Dan sambil bergumam dalam hati, tante mira menjawab.. “huh kenapa sih anakku yang satu ini selalu saja minta duit dan minta duit.. Huh… kapan dewasanya anak ini”.

Din… sampai kapan kamu bakal seperti ini nak. Ayo.. mama sudah tua. Ini yg terakhir lho ya uang sekripsimu mama kirim” Ditekannya tombol send, dan tertulis disana sebuah nama : Ananda Dini Putri.

..di depan komputer, bukan dikafe..

“Plak..!!!” Seorang pemuda menepuk seekor lalat dipahanya dan kembali menulis cerita itu di layar komputernya….

Malang, 26 April 2006

pakdhe

(* pic taken from http://www.artquotes.net/masters/vangogh/vangogh_nightcafe.htm)