Kata-kata tak menyelesaikan apa-apa

Kata demi kata menyusuri ruangan ini. Meluncur laksana air di dedaunan kala hujan.
Senyap jiwa coba diobati dengan sesungging senyum. Namun hati merintih, menjerit.
Mampukah jiwa bertahan dengan cita-cita ?
Sudikah waktu menghormati perjuanganku ?
Sampaikah masa dikala bahagia ?

Sementara kata-kata meluncur begitu saja menghiasi hidup yang fana.
Apa yang akan kau ceritakan pada si buta tentang gajah ?
Apa yang akan kau senandungkan pada si tuli tentang lagu ?
Kau harap nasehat apa dari mulut si bisu ?

Sementara hanya kata-kata yang bisa kau berikan.
Sementara hanya kata-kata yang bisa
Sementara hanya kata-kata
Sementara hanya
Sementara

Coba jelaskan tentang perjuangan kelas pada sang kapital.
Coba kau buka mata jiwa dengan tindak tanduk saja.
Coba kau ungkapkan sesuatu yang tak pantas diungkapkan kata.

Tentang cita-cita yang bisa jadi tak sama dengan cinta.
Tentang kata-kata yang tak menyelesaikan apa-apa.

Tentang janji ?
Yang jelas-jelas tak bisa kau tepati.

Hei, para cerdik cendikia !!
ajari aku menjelaskan hati ini padanya.
ajari aku menceritakan kisah hidupku padanya.

Hei, para ilmuwan !!
beri aku ilmu tentang kata
karna harta tak pernah kupunya
dan iman telah menipis belaka

Hei, para orang suci !!
sampaikan pada Ilahi Rabbi
bahwa aku masih mencintai

Hei, para sahabat !!
genggam tanganku erat-erat
karna takutku pada gelap pekat

Setiap tanya yang datang padaku laksana sembilu
kepada siapa aku mengadu ?

Setiap gelengan kepala menghunjam dada bagai gada
kepada siapa aku beri gelisah ?

kutuang semua dengan goresan
agar jiwa tak lagi bimbang
kupilih kata
meski kutahu tak jadi apa-apa

Surabaya, Medio 6 Oktober 2008
(Saat genetika bertanya pada turunannya)

  • Intan

    🙂