Balada Karto Gembol (4)

Engkau siapa ?
Rumahmu dimana ?
Apa Kerjamu ?
Yakin kau dengan kehendakmu ?

Pertanyaan-pertanyaan Wak kaji terus bernyanyi …
Di telinga Karto Gembol yang jadi nyaris tuli …

Kamu itu mung preman pasar To…
Sholat enggak ngajipun enggak.
Lha kok melik temen arep nggayuh lintang ?

kata Karjo bakso sambil berdendang mengingatkan.

Asap klobot wak kaji buyarkan angan
Mata Karto Gembol perih seperih hatinya.
Bukan marah diri pada Wak kaji
hanya kenyataan tersampaikan perih

Sandang hanya seongok kain menutupi malu diri
Pangan hanya sejumput penambah energi
Papan hanya penutup panas terik matahari
Karto Gembol merasa seperti bermimpi

Sebatang rokok sisa pesta tadi malam menemani
kenyataan yang pahit dihati coba diobati
merenung kembali dalam jiwa sejati
menangis kepadaNya mengalir kembali

Apakah tidak diijinkanNya
Manusia jatuh cinta
Pada bidadari dunia
Yang turun menjadi nyata

Karto Gembol tertunduk sedih
Geram diri, marah jiwa tak terperi
Merah menyala tatap matanya
Api cinta membara berubah rupa

Aku adalah hamba
Dia adalah Sang Maha Pencipta
Hubunganku denganNya adalah rahasia

Aku tak mematuhiNya dimata manusia
Adalah bentuk kepatuhanku pada amanah yang diberiNya

Jika ku mengaji karena istri
Maka Sang Maha Pencipta kan mengambilnya
Jika ku sujud karena rizki
Maka sang Maha Kaya bisa jadi mengurangi

Dentuman-dentuman kata-kata
berperang dalam benak Karto Gembol
Ajaran-ajaran guru sejati di kampungnya dulu
Berperang dengan realitas yang dihadapi kini

Karto Gembol pergi dengan pasrah
Sambil mendesah, memunggungi mentari
Kembali dia berkata dalam hati
Duh Gusti inikah bentuk rasa cemburuMu pada diri ?

(*pic taken from http://www.artquotes.net)