ES Krim Ramadhan

Para sahabat dimanapun anda semua berada. Sepertinya sudah cukup lama tak kupersembahkan upeti sosial berbentuk tulisan kepada anda semua. Sebagai bagian dari masyarakat terdidik dan tercerahkan dari bangsa yang (katanya) besar ini. Bahkan tak kupersembahkan sebuah tulisan yang bagus untuk perayaan kemerdekaan ke 65 negara yang (katanya) kaya ini.

Jadi.. izinkanlah hamba tuliskan sebuah kisah yang sebenarnya juga bukan hasil karya hamba sendiri. Izinkan hamba cuplik dari ingatan-ingatan tentang sebuah kisah kecil ramadhan yang entah milik siapa yang pernah hamba baca, tapi sangat berkesan di hati hamba. Hamba gubah sedikit karna lupa jalinan ceritanya.

Anggaplah ini semua sebagai pelepas dahaga dari jiwa resah hamba, dan rasa haus para sahabat dari karya-karya yang tak berharga dari penulis kampungan ini. Selamat membaca.

……

Alkisah disebuah kampung kecil, hiduplah seorang anak bengal nan nakal. Anak ini tak karuan siapa ayahnya, hanya hidup bersama seorang wanita, yang dia panggil Ibu. Anak haram, itu kata orang-orang di kampung. Yah.. wajar bila dia dipanggil anak haram, karna dulu pekerjaan sang ibu hanyalah teman tidur lelaki penganggur kampung Bukit Kapur.

Aku mengenal anak itu. Gimin namanya. Aku kenal dia, ketika dia berusaha mencuri dua kresek kecil tahu jualanku. Orang-orang pasar menangkapnya dan menyerahkan kepadaku. Ketika kutanya mengapa dia mencuri tahu daganganku, dengan tatapan mata menyala dia menjawab singkat : “untuk makan Cak To..”

Orang-orang memanggilku Cak Karto. Pedagang tahu pasar Bukit Kapur. Aku tidak lama berjualan tahu disini, sehingga aku tidak ingin memperpanjang masalah ini. Aku juga ingin secepatnya kembali berdagang. Maka kulepaskan dia sambil kubuat dia berjanji untuk tidak mencuri apapun lagi di pasar ini. Dan diapun berjanji untuk tidak mencuri lagi. Kuberikan satu kresek kecil tahu kepadanya. Dari ceritanya aku tahu ibunya bernama Lastri.

Dan orang-orang benar, ibunya hanya mampu menjual diri. Kutawarkan kepadanya untuk membantuku mengangkat barang dagangannku setiap subuh, maka satu kresek tahu sebagai bayarannya.

Dia tersenyum, mengangguk, kemudian berlalu. Maka sejak saat itu, setiap subuh, Gimin mendatangi bedeng-ku. Orang-orang pasarpun tahu bahwa aku, Cak Karto Bakul Tahu punya pegawai tetap anak bengal bernama Gimin.

Dasar memang anak bengal, setelah selesai seluruh dagangan tahuku tergelar, tanpa sungkan dia minta jatah bayarannya dan kemudian menghilang. Ah.. memang salahku tidak memintanya bekerja membantu menutup bedeng tahuku ini. Yah.. sudahlah hanya satu kresek tahu. Dan lagi, dia cukup rajin untuk datang tiap subuh membantuku.

Siang itu Agustus tengah bulan. Puasa Ramadhan sudah berjalan 15 hari, dan orang-orang pasar sibuk menaikkan harga demi meraih sedikit uang untuk hari raya nanti. Di tengah rasa lapar dan haus serta terik panas seng pasar ini, sepertinya siang hari berjalan lambat sekali.

Tiba-tiba saja pasar geger lagi. Dari luar pasar dekat parkiran, suara teriakan minta ampun seorang anak membahana. Terikan kemarahan Kang Karyo hansip pasar membahana… Suara teriakan itu semakin mendekat ke bedengku. Dan suara itu, sepertinya suara Gimin.

“Ini cak.. anak buah sampeyan.. Sudah ditolong orang-orang pasar, eh malah sekarang makin mbandel.” ujar Karyo hansip pasar membahana. Puluhan mata para pedagang dan pembeli menonton layaknya sinetron di tipi. “Ada apa kang…?” tanyaku bingung sambil melihat pelipis Gimin yang memerah bekas tamparan kang Karyo.

“Lha wong orang puasa, panas-panas dan haus banget, lagi pengen tidur, eh.. lha kok dia mamerin es krimnya ke orang-orang.. Apa ya ndak mangkel-ne tho itu ?” ujar kang Karyo masih dengan amarah. “Mbok ya sampeyan tuturi anak ini, sampeyan ajari supaya ndak tambah nakal tho Cak. Khan ya njenengan yang jadi pengganti bapaknya Gimin…” ujar kang Karyo.

“Iyo cak.. klo perlu ibunya ndang dilamar sekalian.. khan lebih bagus gitu..” ujar yu Ginem tukang jamu merangkap sumber gossip pasar Bukit Kapur ini diiringi tawa orang-orang disekitarku.

Aku merasa terpojokan oleh kondisi ini. Akhirnya kutenangkan orang-orang kampung. Kuseret lengan Gimin, dan kusuruh Gimin membersihkan lukanya di ponten umum.

Adzan Ashar berkumandang setelah dia selesai membersihkan luka-luka dan belepotan lumpur di bajunya. Kusorongkan padanya sebuah sarung dan baju taqwa pemberian dari babah liong pabrik tahu kampung sebelah. Kusuruh dia memakainya sambil kututup bedeng tahuku.

Kuajak dia ke langgar kecil dekat pasar untuk sholat Ashar. Sepertinya dia ragu, namun dengan mata melotot kugertak dia. Akhirnya diapun sholat Ashar berjamaah denganku. Pasarpun sudah mulai sepi, Gimin masih terduduk diam didekatku.

“Ada apa tho min.. Kenapa hari ini kamu tidak puasa ? Atau andaikatapun kau tidak puasa, mengapa engkau tidak menghormati orang yang sedang berpuasa ? ” kataku menghadapnya.

“Aku puasa cak.. bahkan puasaku lebih dulu ketimbang orang-orang. Aku selalu menghormati mereka cak.. bahkan mereka yang ndak menghormati puasaku lebih dulu…” ujarnya lirih.

“Maksudmu ?” tanyaku heran dengan jawaban Gimin yang jauh dari apa yang kuduga.

“Jika orang-orang puasa hanya pada bulan Agustus ini, aku ini sudah puasa jauh sebelum Agustus Cak… Mereka hanya puasa 1 bulan dalam satu tahun. Aku puasa 11 bulan dalam satu tahun.

Dan aku putuskan untuk tidak puasa bulan Agustus ini, meskipun aku tahu ini Agustus ini Ramadhan..” ujarnya terisak.

“Jika bulan Januari, Februari atau bulan-bulan yang lain, mereka bisa tertawa-tawa dengan apapun yang mereka makan atau minum tanpa perlu menghormati aku yang kelaparan, apa aku juga harus menghormati mereka ketika mereka puasa Cak ? Sampeyan tahu sendiri betapa bulan kemaren aku nyolong tahu dagangan sampeyan…” lanjutnya makin menunduk.

“Jadi.. izinkan aku melampiaskan rasa dendam, marah, kecewa bahkan iri dengkiku bulan Ramadhan ini pada orang-orang, dengan tidak puasa dan pamer di hadapan mereka. Seperti apa yang akan mereka lakukan terhadapku di bulan depan. Bulan ketika orang-orang dengan rakus makan, berpakaian mewah dan bersalaman…” ujarnya merebut tanganku dan menciumnya dalam-dalam.

Aku terdiam tak bisa menjawabnya. Tangan kiriku bergerak, mencoba menata songkoknya, sementara tangan kananku bersimbah air matanya. Hatiku getir segetir linangan air matanya.

Senja merah cakrawala di ufuk barat, kulangkahkan kakiku keluar dari langgar menuju kaki bukit kapur bersama Gimin sambil bergumam lirih “….engkau perlu ayah min…”

……

Malang, 24 Agustus 2010
Ramadhan 10 hari ke-2

3 thoughts on “ES Krim Ramadhan

  1. hmmm,…menarik

    sayangnya dikemas dalam cover irrational anthropomorphic religious.

    Kliatane si gimin lulusan dari sourbone :))

    Cukup inspiratif dan cukup ngrusak keyakinan orang2 yang menjalankan agama sebagai rutinitas. ha3

    implisitnya, tuhan gag adil, ha3

  2. andai di pasar itu ada yang jual moral,akhlak dan toto kromo pasti gimin gak perlu mencurinya. Malah Cak Karto dengan ikhlas dan senang hati menyisihkan uang hasil jualan tahu untuk membelikan buat gimin…..

Comments are closed.