sang pendaki

Aku berjalan disebuah lorong gelap waktu. Dalam terjerembabnya jiwa dan diri, terus kucoba berjalan melewati dinding gelap gua itu.. Aku terjerembab kedalamnya ketika pendakian ini menjelang titik puncaknya. Dingin gelap kabut membuatku tak bisa melihat sebuah lubang besar di ceruk bukit, membawa luka. Sobekan-sobekan kulit yang tergerus dinding lubang tak kala jatuh tadi, tak terasa pedih lagi. Namun pedih, perih luka dibadan tidak seperih luka dihati. Kecewa, marah bercampur malu tidak pada alam yang kugeluti, tapi lebih pada kebodohan diri untuk terjatuh dan tergeletak tanpa daya dan penuh luka didalam gua ini.

Sekian lama berikutnya, mataku mulai beradaptasi. Dinding-dinding gua ini mulai kukenali. Meski rasa perih masih saja menghajar diri, namun kucoba tuk kuatkan raga kembali mencari jalan keluar dari kegelapan ini.

Aku berharap orang tua yang menunjukkan jalan kepuncak gunung ini ada disini. Biar kutonjok kepalanya yang sudah tua itu. Yang dengan wajah sok suci dan arifnya menunjukkan jalan ini padaku. Aku percaya penuh padanya. Orang-orang bilang bahwa dirinya adalah sesepuh desa yang sudah paham benar gunung ini. Akupun percaya melihat tubuhnya yang tegap kuat sebuah bukti nyata tentang data-data itu.

Namun sekali lagi, sepertinya jalur pendakian yang ditunjukkannya adalah jalur kematian para pendaki. Ah.. andai kau ada disini pak tua…

Sayup-sayup kudengar suara air mengalir dari dalam gua. Dengan menyeret kaki yang lelah, rasa haus diri menarik diriku menuju suara. Sedikit kulihat cahaya dari ceruk tanah diatas gua. Mungkin disana ada air, pikirku. Kumendekati cahaya itu…

Tiba-tiba mataku melihat sebuah tulisan. Atau lebih tepatnya beberapa tulisan yang terukir pada dinding-dinding gua. Dengan hiasan ukiran pola-pola.. yang rasa-rasanya aku mengenal itu.

Yah.. itu adalah ukiran yang sama dengan ukiran di dinding rumah pak tua penunjuk jalan yang bangsat itu… Aku yakin. Pola sulur segi-empatnya aku kenali membentuk bingkai dari tulisan itu. Ada empat bingkai tulisan. Ada empat kelompok tulisan. Ah.. permainan apalagi yang coba diberikan pak tua itu ??

Kulihat, kuraba dan kemudian coba kubaca tulisan dinding itu.

{Subhanallah}
untuk setiap kenikmatan yang tak pernah kau raih..
untuk setiap kesenangan yang tak bisa kau rasakan..
untuk setiap tawa suka yang menghibur diri..
sanggupkah kau bertasbih ?

{Alhamdulillah}
untuk setiap waktu yang engkau buang percuma…
untuk setiap harta yang tlah kau sia-siakan belaka…
untuk setiap cita-cita, harapan dan asa yang tak kau usahakan…
sanggupkah kau bertahmid ?

{La Ilaaha Illa Allah}
untuk setiap perselingkuhan hati yang sering kau nikmati..
untuk setiap percabangan kemauan yang kau jalani..
untuk setiap pujamu pada kemampuan diri..
sanggupkah kau bertahlil ?

{Allahu Akbar}
untuk setiap kegagalan dalam usahamu..
untuk setiap kesalahan yang kau buat..
untuk setiap kekurangan yang kau lakukan..
sanggupkah kau bertakbir ?

ARRRRGGGHHH…….!!!!

Saat kotak keempat selesai kubaca, tiba-tiba saja rasa sakit itu kembali merajam datang. Tubuhku bergoyang keras dan kemudian terjerembab ke sebuah lorong lain di dalam ceruk gua ini. Bajuku tersobek-sobek oleh dinding-dinding lorong yang membawaku terus menerus berguling-guling kebawah. Terantuk batu dan kemudian terlempar ketanah dengan keras tak sadarkan diri.

……………….

Tersadar diri dalam kubangan basah. Tetesan air kecil mengalir membasuh kepala. Perih dan luka itu kembali terasa. Tangan, kaki dan sekujur tubuh terasa lelah. Didera segala derita. Kuhisap sedikit air genangan itu tuk membasuh tengorokan kering. Berharap sedikit lega menyiram jiwa letih celaka. Tidak manis, tidak pahit, sedikit menyegarkan. Sedikit mengobati luka dan kemudian terdengarlah suara puisi dari kegelapan gua laknat ini…

Pria datang tanpa nama
mendaki bukit egositas jiwa
hendak kemana engkau mengembara
wahai pemilik jiwa merana ?

Pria datang tanpa nama
sejumput ilmu coba taklukan apa di depan mata.
Sementara samudra dalam jiwa tak juga kau arungi
hanya sungai kecil dunia kau coba kuasai ?

Pria datang tanpa nama
demi cinta manusia, kaukorbankan cinta sejati
demi seikat dunia, kau campakkan Ilahi.
makin tinggi kau daki, makin jauh kau terperosok kini.

Apa yang kau cari wahai pria tanpa nama ?
Bukankah yang ada sudah nyata di depan mata ?
Bukankah dunia hanya permainan belaka ?
Bukankah akhirat yang lebih nyata adanya ?

Aku diam sejenak mencoba mengenali dari mana arah suara. Aku kenal suara itu. Suara itu.. yah.. suara itu adalah suara pak tua bangsat yang menunjukkan jalur pendakian ini. Dan suara laknat itu juga yang menjerumuskanku disini. Saat ini.. Dengan geram aku berteriak “TUA BANGKA LAKNAT !! DIMANA KAU ? KAU JERUMUSKAN AKU DIJURANG INI SAAT INI. KEMARI KAU !! KUTEBAS BATANG LEHER TUAMU UNTUK SEGALA DERITA INI !!”

Suara kakek tua itu kembali berdendang tenang dan bergema kembali..

{amarah 12:53}
“Telah bertemukah dirimu dengan Amarah ?
tatkala bara api dalam diri menyala
panas jiwa merona merah
dan masih saja engkau mengabdi padanya ?”

{lawwamah 75:2}
“Dan airmata kebodohanmu kah itu lawwamah ?
membuaimu dengan tiupan angin dalam penyesalan terdalam
sehitam gua yang kini terhampar dihadapanmu
dan masih saja engkau senandungkan lagu sendu itu ?”

{mulhamah 91:8}
“Dan kau berpaling padaNya kah wahai mulhamah ?
dari Tuhanmu yang tinggi, mengalir air menuju diri
membentuk tempayan dirimu yang tlah kausiapkan
hingga kasih-sayangmu memancar kuning ceria ?”

{mutma’inna 89:27}
“Cahaya putih yang kaucari kah wahai mutma’inna ?
yang bisa menerangimu dalam kegelapan ini
yang mampu menenangkan diri dari kecamuk hati yang mewabah
dan menjadikan hamba sejajar dengan tanah.”

Aku terdiam, terhenyak. Tanpa kupikir, bibirku bergerak dan bertanya “Siapakah engkau ? Dimanakah engkau berada ?”

dan suara laki-laki itu bergema sekali lagi.

“Aku tak berada dimana-mana.. Aku berada di dalam dirimu sendiri. Aku adalah dirimu sendiri.”

Dan tiba-tiba sebuah cahaya menyilaukan mata membuatku tak bisa membuka mata.
Aku terdiam tak bertanya
Aku tertunduk dan kemudian bersujud

tafakur

Dengan lirih kuberkata..
“Maafkan aku ya Rabb, yang membiarkan kemarahan menjadi panglima..”
“Maafkan aku ya Rabb, yang membiarkan kesedihan dan kebodohan menjadi nahkoda..”
“Maafkan aku ya Rabb, yang menganggap anugerah adalah milikku jua..”
“Maafkan aku ya Rabb, yang membutakan mata pada yang lebih haqq..”

“Maafkan aku ya Rabb, yang tlah lupa diri. Maafkan aku ya Rabb..”
“hanya kepadaMu..”
“hanya ridhoMu..”

(Malang, satu hari setelah hari kartini 2010)
(*gambar diambil dari sini)