Robohnya Bendera Rumah Kakek

Hari sudah cukup siang ketika kulewati jalan-jalan besar desaku. Ya.. hari ini aku kembali ke kampungku dengan setumpuk keberhasilan sekolahku di kota besar.

Aku tinggal di daerah kampung pinggiran kota yang sangat rindang dan sejuk hawanya. Setiap pohon buah berjajar di kiri dan kanan bangunan rumah-rumah yang ya.. pohon yang besar-besar, tapi buahnya tidak pernah habis dimakan jaman. Rumah-rumah biasa pinggiran kota dengan isi tawa canda renyah keluarga bahagia.

Tiap-tiap rumah memiliki halaman yang cukup luas dan cukup rindang juga dengan pohon jambu dan mangga yang menghiasi setiap mulut gang kampungku. Yah.. seperti lyakanya sebuah kampung pinggiran, banyak anak kecil yang masih suka berlari bertelanjang kaki kesana kemari. Bermain layangan ataupun bermain bola dilapangan.

Setengah perjalanan dari pangkalan ojek kampungku ke rumahku, aku berhenti sejenak di bangunan kuno kampung ini.

……..

Ya..ditengah kampung ini terdapat satu-satunya bangunan kuno yang sudah lama berdiri sebelum para penduduk kampung ini seramai saat ini. Bangunan kuno itu cukup tua. Berwarna biru tua, dengan jendela-jendela besar di kanan kiri serta langit-langit rumah yang sangat tinggi. Dengan pekarangan yang cukup luas untuk sepak bola kecil dan rumput hijau yang datar tertata rapi terpelihara.

Dengan pekarangan yang seperti lapangan sepak bola kecil itu, kami dan anak-anak kampung sebelah bermain sepakbola dan layangan. Atau bermain kelereng jika memang musimnya kelereng. Suara riuh rendah anak-anak menghiasi tiap sore halaman itu.

Waktu itu.. aku masih bermumur 5 tahun, aku sering ikut berantem dan ikut gelut dengan anak-anak kampung sebelah kalau mereka sudah mulai bermain curang. Mulai dari sumpah serapah sampai saling mendorong bahkan adu jotos jadi solusi akhir bagi kami. Tapi selalu berakhir dengan damai ketika sang pemilik rumah, kek Parjo, keluar rumah, mengumpulkan kami semua dan melerai kami. Mendudukkan kami di beranda rumahnya serta menghidangkan teh dan makanan ringan yang dimilikinya..

Oh iya. Kakek itu berumur sangat tua waktu itu. Umurnya yang tua tidak bisa menyembunyikan kerasnya wajah pejuang masa 45 itu. Beliau orang yang dituakan di kampung ini dan juga dikampung sebelah. Kata ayahku, beliau adalah pendahulu dari penduduk kampung ini.

Sore itu, dengan belepotan debu dan tanah setelah lelah berkejaran dan bermain bola kakek mengumpulkan kami di beranda rumahnya dan bercerita, “Dulu aku punya seorang teman seperjuangan. Namanya Karimun. Dia jago dalam menembak Belanda. Kalau ada Belanda sedang patroli di daerah hutan pinggiran sana, maka biasanya aku dan Karimun segera menguntitnya. Kami berdua menguntit diam-diam, kemudian mengambil posisi yang paling enak untuk menembak mereka diam-diam..”.

“Kami sering menunggu Belanda lewat depan belokan ujung jalan sana dibalik pohon randu dekat sungai di hutan. Jika muncul Belanda maka kami berlomba menembaki pemimpin mereka dengan senapan itu.. ” katanya sambil menunjuk senapan laras panjang yang di ruang tamunya.

Aku tak seberapa mendengar kelanjutan ceritanya, karena mataku tertumbuk pada sinar matahari sore yang menyeruak dibalik tiang bendera di depan beranda ini.

Ya.. tiang bendera dan bendera merah-putih itu. Berkibar setiap pagi, dan sehabis bercerita dan menjelang kami pulang, kakek selalu mengajak kami baris sejenak untuk menurunkan bendera merah-putih itu.Bersama Panjul, Kirno dan teman-temanku, kami berbaris rapi laksana tentara dan menghormat serta menyanyikan lagu Indonesia Raya ketika kek Parjo menurunkan bendera itu.

Bendera itu kemudian dilipat rapi oleh kek Parjo dan diserahkan padaku untuk dibawa ke ruang tamunya. Bendera yang agak mulai luntur warna merahnya, dan mulai ke-abu-abuan putihnya aku bawa dengan khidmat ke meja tengah ruang tamu. Ya.. bendera ini punya sejarah sendiri kata ayahku. Bendara inilah yang dulu dipertahankan kakek dan menjadikan lengan kanannya sobek akibat tebasan serdadu Jepang.

Kakek menahan tebasan samurai serdadu Jepang itu dengan tangannya hanya karena kakek menolak menurunkan bendera itu dan menggantinya dengan bendera matahari terbit. Dan dengan berlumuran darah, kakek merampas samurai itu dari tangan serdadu itu dan membunuhnya.

Samurai jepang itu bergantung disebelah kanan senapan kek Parjo.

Pak lurah dan orang-orang kampungku tidak pernah melarang kek Parjo menaikkan dan menurunkan bendera meskipun bukan hari nasional. Mereka semua menghormati kebiasaan kek Parjo itu. Sebagai sesepuh kampung, kek Parjo tidak besar kepala dan malah setiap kali ada ronda malam, kek Parjo masih juga berpartisipasi. Tidak pernah sekalipun aku dengar dari ayahku bahwa kek Parjo sakit ato bahkan ijin tidak ronda malam. Selalu saja ada kek Parjo di pos kamling depan rumahku.

Kek Parjo sering juga bertandang ke rumah-rumah untuk silaturahmi atau memberikan sekedar ubi hasil kebunnya ke tetangga sekitar. Bahkan pertengkaran antar wargapun sering kek Parjo yang turun tangan mendamaikannya. Betapa peran kek Parjo tidak tergantikan di desa ini.

……..

Hingga suatu saat, sebuah peristiwa yang merubah kampungku terjadi.

……..

bendera_7772Ya.. sejak saat kejadian itu, kek Parjo berubah. Tiang bendera yang berada di tengah-tengah pekarang rumah itu patah jadi dua. Dengan bendera merah putih yang jatuh mencium tanah.

Kakek Parjo hanya memungut bendera itu. Menciumnya dan melipatnya kembali tanpa berkata apa-apa. Tak ada orang-orang di sana. Hanya kakek, bendera dan tiang yang tlah patah.

Dan sejak saat itu kakek Parjo lebih sering murung dan mengurung diri dirumahnya yang kuno dan besar itu. Setiap kali teman-temanku mencoba bermain dihalamannya, dengan keras kek Parjo mengusir mereka. Ketika orang-orang tua kami mencoba bertanya. Kakek hanya diam tak berkata apa-apa.

Dan orang tua kamipun segan menanyakan lebih jauh lagi tentang hal itu. Semua penduduk kampung saling bertanya. Dan pertanyaan-demi pertanyaan itu berubah menjadi tuduhan antara satu dengan yang lain.. Setiap orang tua berusaha untuk menanyakan kepada anak-anak mereka tentang hal itu. Dan tak seorangpun yang mengaku.Tak seorangpun.

Kek Parjo masih juga tidak bersikap apa-apa. Hanya diam dan mengusir setiap anak yang mencoba bermain dihalamannya. Dan tiang bendera itu masih saja patah ditegakkannya.

Pernah orang tuaku dan beberapa pemuda lain mencoba menegakkan kembali tiang bendera itu, Tapi seperti layaknya anak kecil, maka diusirnya mereka semua. Dan semakin lama, kek parjopun mulai mengucilkan diri. Tak pernah lagi kek Parjo siskamling maupun bertandang kerumah orang-orang.

Kebun ubinyapun mulai tak dikerjakannya. Hingga saat aku masuk SMP, rumah itu makin tak terurus. Rumput makin meninggi, dan kebun ubinya makin tak berbentuk lagi. Hanya belantara rumput gajah diselingi oleh ubi yang tak terurus ada di kebun kakek. Dan tiang bendera itu.. masih saja patah tak tegak kembali.

Hingga suatu saat, kakek jatuh sakit dan dirawat dirumah sakit. Kata ayahku, kakek sakit jantung. Silih berganti penduduk kampungku mengunjunginya. Dan tetap saja, kakek tidak pernah setuju kalau tiang itu dikembalikan lagi.

Dan rumah kuno bercat biru itupun makin lusuh tak terurus. Rumput-tumput liar tumbuh tak sedap dengan hiasan sebuah tiang bedera yang patah. Cat biru tua rumahpun mulai dihiasi lumut dan di beberapa tembok, warna merah dari bata yang mulai keropos menghiasinya.

Pernah ada niatan dari tetangga untuk diam-diam mendirikan kembali tiang itu senyampang kakek masih di rumah sakit, namun muncul desas-desus bahwa anak-anak orang-orang tadilah yang telah merobohkan tiang bendera itu.

Anak-anak mereka itu yg telah merobohkan tiang bendera..”, kata tetangga yang satu. “Pasti mereka merasa bersalah, makanya mereka pengen mengecat tembok itu dan menaikkan bendera kakek kembali..”, ujar yang lain. “Iya.. klo gak salah.. anaknya si anu terakhir yang bermain waktu itu ya…” dan seterusnya.

Gara-gara desas-desus itulah, maka tidak jadi dilakukan pengecatan dan pendirian tiang bendera itu. Egositas orang-orang untuk tidak mau dituduh dan perasaan tidak bersalah orang tua masing-masing membuat mereka sepakat untuk membatalkannya. Sampai disebuah titik dimana kakekpun meninggal dunia.

……..

Sambil aku betulkan letak ransel di punggungku, kulanjutkan perjalanku menuju rumah. Masih terlihat jelas rumah kakek Parjo ditikungan jalan itu, dan masih saja sebuah tiang yang patah menghiasi halamannya yang makin tak terurus.. Sambil mendesah dan berjalan, aku bergumam dalam hati “Maafkan aku ayah, maafkan aku ibu.. dan… maafkan aku kakek.. a.. aku.. telah mematahkan tiang benderamu…

Dan semoga tiang bendera bangsa, negara, universitas dan fakultas tercinta tidak patah

Medio 22-April-2006

*) Penulis Mahasiswa FTUB – 0510206311
(* gambar bendera diambil dari