Unblind Faith

Jika suatu saat kau temukan, seorang laki-laki tua menuntun sebuah tali yang terulur dari leher anaknya. Kau lihat laki-laki tua tadi memegang parang. Berjalan kearah bukit, melintas keramaian. Ketika seseorang bertanya mau kemana dan mengapa anak tadi diikat lehernya, maka pak tua tadi menjawab akan mengorbankan anaknya demi agama.

Jika kau dengar jawaban seperti itu, maka akan kau cegahkan itu terjadi meski sang bapak bernama Ibrahim ?
Jika kau tanya sang anak, mengapa diam saja ? Sang anak menjawabnya bahwa apa yang baik bagi Tuhannya adalah terbaik bagi agama, apakah kau akan membiarkan saja kejadian itu berlalu dan menuduh anak tadi gila meski sang anak tadi bernama Ismail ?

Atau jika sang bapak bernama Budi dan sang anak bernama kebetulan wanita bernama Wati, apakah akan kaubiarkan saja itu terjadi ?

Kisah diatas merupakan diskursus yang aku alami ketika aku bergelut dengan pemikiranku sendiri tatkala khotbah Idul Adha pagi ini. Tentang keyakinan agama, tentang kebenaran, tentang benar dan salah yang sangat relative dalam perspektif waktu dunia.

Beruntung saja mungkin aku ummat Muhammad SAW, sehingga ujian yang aku hadapi tidak seperti ummat penghulu para Nabi. Atau.. jangan-jangan lebih halus dari ujian keyakinan tadi, tapi tak pernah keluar dari ranah esensi ? Jangan-jangan itu yang tengah terjadi.

(pasca sholat Idul Adha 1429 H / 8 Desember 2008 M)