dalam durma rangsang

night-moonSebuah lapangan luas terhampar di depan istana. Seorang laki-laki kurus hitam berjalan dari tepi lapangan menuju tengah tanah lapang. Berjalan tertatih, sedikit tersendat, menuju tengah lapangan luas keraton. Di tengadahkannya wajah hitamnya kearah udara, memandang sekilas ke seluruh luasan lapangan kraton, menghela nafas lirih, dan kemudian berjalan kembali.

Bibirnya bergetar menggumamkan lirih nada-nada durma rangsang dalam panas terik siang hari itu. Sebuah prosesi tapa pepe akan terjadi kali ini. Karena seluruh emosi telah tertumpah dalam wadah kesabaran laki-laki hitam itu. Tanpa keris di pinggang, karena memang tak mampu keris dibelinya. Hanya sebilah pisau dapur kecil di belakang punggungnya. Bersarung kain blacu.


Inilah sajak durma rangsang ku
dalam relung amarah tak terbendung
kunyanyikan lagu durma rangsang..

akulah menak jingga
menantang kencana wungu
dalam sebuah adu

akulah menak jingga
datang kemari dalam amarah api

Dan.. sampailah laki-laki tadi di tengah lapangan. Terduduk diam. Memandang keraton. Menunggu saatnya. Apakah setiap tuntutan tanpa kata ini tersampaikan, ataukah pralaya menghadang hidupnya. Menunggu dengan tenang, sambil seluruh peluh membasahi kulit hitamnya, dipindahkannya pisau dari punggungnya kearah depan, dan dipegangnya gagang pisau dapur dengan duduk takzim, menanti jawaban. dalam tapa tanpa katanya.

dari jauh.. ladrang durma rangsang terus bergema dalam hatinya…

(Malang, 07 Mei 2009, tak kala kata tidak lagi berarti, maka diam mungkin jadi memiliki makna)

...terbaca 318 kali...