Tentang Jilbab (utk kekasihku disana).

Seorang teman (hidup) bertanya padaku tentang jilbab. Maka aku hanya bisa membuka sebuah direktory dari komputerku, kemudian kucari folder e-book islami dan ku double klik Al-Qur’an digital.chm dan dibagian tab-search aku ketikkan sebuah kata : “jilbab”.
Tak seberapa lama muncul sebuah ayat 59 Surat 33. Al Ahzab, yang diterjemahkan sebagai berikut :

59.Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[*1232] ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

[*1232]. Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.

Gampang bukan ? Segampang membeli jilbab mungkin. Cukup dengan sekian ribu rupiah sudah selesai tugas dan kewajiban wanita untuk memakai jilbab. Sangat-sangat mudah dan (tanpa mengurangi rasa hormat saya..) murah.
Disebuah tempat yang berbeda, aku pernah berjalan-jalan di sebuah plaza di jantung kota besar. Seorang wanita muda berjilbab berjalan. Bukan jilbab panjang bahkan bukan “burkah” (penutuh muka/cadar). Cukup manis wajahnya.. Disampingnya berjalan seorang laki-laki muda yang juga cukup tampan. Dan.. tangan mereka bersatu, laksana tak terpisahkan oleh waktu di sepanjang jalan itu.
Pikiran burukpun datang : “duh.. kok gitu sih..”
Sementara pikiran baikpun melawan : “hei.. mereka bukan pacaran bos.. mereka udah nikah…”
Dan bergelutlah dua macam pikiran itu sembari waktu menghantarkanku sampai ketempat tujuan.
Sebuah paradoks yang muncul di dunia Islam di Indonesia, ketika 2 hal tersebut menjadi santapan sehari-hari dari kaum Muslim di negara yang Nasionalis dan entah apakah menjadi Kapitalis atau bahkan suatu saat jadi Islamis ?
Saya bukan seorang muslim yang ingkar sunnah, sehingga saya bedah jilbab dengan referensi hanya dari Al-Qur’an. Serta izinkan saya membedah sesuatu yang sebenarnya tidak sepantasnya saya bedah, (karena jilbab bukan kewajiban dalam jenis kelamin saya), semata-mata saya bedah dengan logika terbatas dan terburuk dari sebuah proses terjaganya saya dari rasa kantuk karena sebuah sms datang dimalam hari.
Sama seperti dan segampang mencari landasan hukumnya, jilbab adalah sebuah proses yang sangat mudah. Cukup membeli kain secukupnya untuk menutup sekian persen dari wajah wanita, maka selesailah sudah. Dan apakah itu “target pasar” dari sebuah ayat yang agung diatas ?
Otak iblis saya bertanya dengan cerdik :
“kenapa memakai jilbab sih ?
Indonesia khan daerah tropis ?
Dan lagi.. klo pakai jilbab semua, ntar malah binung mana istrimu dan mana yang bukan istrimu ?”
Wah… ruwet juga ternyata melawan logika iblis dalam diri saya. Tapi mari kita lihat jawaban Nya (pakai eN besar, yang semoga bisa dibaca sebagai Allah SWT) langsung.
“..supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu.”
Secara harfiah,

  • mereka lebih mudah dikenal : sebagai muslimah.
  • mereka tidak di ganggu : sebagai wanita yang memang penuh gangguan dan cobaan.

Maka jilbab mengandung konsekwensi (dan positif sekaligus negatif). Bahwa gangguan akan berkurang, itu sudah janjiNya. Ndak mungkin khan, Allah SWT berbohong ?
Dalam perspektif saya, hal ini berarti seseorang yang memakai jilbab, PASTI ditolong Allah dari segala gangguan. Misalnya : Gangguan ndak disuitin orang-orang dijalan ? Gangguan ndak
dapat pekerjaan ? Gangguan miskin dunia ? Dan bisa jadi semua gangguan itu menjadi sirna seketika. Enak khan ? Itu janjiNya Allah lho…
Namun demikian, janjiNya Allah itu memang sangat integral banget. Ketika dijanjiin ndak diganggu, saat itu juga, wanita diminta untuk dengan hormat menunjukkan ke-islam-annya dengan memakai jilbab. Dan konsekwensi label Islam dari seseorang secara fisik di mata manusia, menyebabkan seseorang menjadi harus benar-benar menjadi Islam. Secara Kaffah ?

Yup.

Sekali lagi sang iblis dalam diri saya berontak : “hiks.. berat amaaat…
Lah… Islam itu kalo dibilang berat juga iya.. klo dibilang ringan juga iya.. Berat bagi yang merasa Islam itu beban. Dan ringan klo merasa Islam itu anugerah. Nah.. sekarang tentang beban dan anugerah, itu semua tergantung pada elemen ke-tauhid-an kita. Sampai seberapa jauh kita
memandang Islam kita sendiri. sebagai beban, atau sebagai anugerahNya.
Sedikit banyak, maka mari kita cermati kenapa kok yang disampaikan itu (kewajiban agar) “lebih mudah dikenali” baru kemudian (hak untuk) “tidak di ganggu” ?

Prinsip dasarnya adalah melaksanakan kewajiban baru mendapat hak. Artinya secara lebih mendalam, logika saya berkata bahwa, sudah benar-benar muslim-kah saya sehingga kadang diperlukan sebuah metodologis fisik untuk mendidik ulang diri saya menjadi seorang muslimah ?
Kadang memang diperlukan sebuah perubahan fisik untuk memaksa diri kita yang malas ini menjadi lebih taat kepadaNya. Dan setiap perubahan adalah pilihan. Dan setiap pilihan pasti ada konsekwensinya.
Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada kaum wanita, serta sekali lagi saya bukan mengagungkan salah satu gender, maka memang dalam perspektif dan relatifitas tertentu, wanita sangat-sangat mudah goyah dalam elemen ke-Islam-annya.
Sekali lagi.. maaf. Penilain ini sangat-sangat subyektif dan tidak berdasar ilmiah apapun. Hanya sekilas terbaca dalam otak kecil saya seperti itu.
Dan dengan relatifitas tersebut, maka ada metode yang paling baik yaitu dengan “memaksa” gender tersebut memakai “attribut” tertentu sehingga tindak-tanduk serta kaidah-kaidah kehidupannya menjadi lebih terjaga. Dan bisa jadi salah satu gangguan yang muncul yang akan dihindarkan adalah : “gangguan keraguan dalam sebuah ketauhidan”.

Jadi.. apakah seseorang memakai jilbab atau tidak, saya pribadi menyerahkannya pada perspektif kalimat diatas. Apakah itu menjadi Wajib atau Sunnah hukumnya, saya sendiri lebih pada titik dimana membebaskan seorang yang sudah aqil baliq untuk memilih perspektif ketauhidannya terhadap kalimat ayat diatas. Dan hukum dasarnya adalah sama, bahwa setiap hal itu adalah pilihan, silahkan memilih, dan siapkan diri terhadap semua konsekwensi pilihan tersebut.
Memakaikan jilbab bagi tubuh, jasad dan bahkan muka manusia ini, adalah sebuah metode dalam mendidik diri kita. Dan esensi pendidikan diri kita adalah kembali kepada Nya. Ingat bahwa, semua berasal dariNya dan kembali kepadaNya.

Tambahan Personal :
Jika suatu saat anakku berjenis kelamin wanita, maka aku tidak terlalu memusingkan apakah dia memakai jilbab atau tidak, apakah dia sholat atau tidak. Namu
n yang perlu aku tanyakan kepadanya adalah :

  • perspektifnya tentang Allah SWT.
  • Yang akan sering aku diskusikan padanya adalah seberapa kenal dan dekat dirinya pada Sang Pencipta.
  • Dan semoga sangat dekat dan akrab dirinya padaNya sehingga dia tidak pernah takut menghadapi apa saja dikehidupan. Tidak takut miskin, tidak takut menghadap dosen. Tidak takut, ndak payu rabi (tidak bisa menikah, jawa red.), ndak takut mati.

Bahkan saking ndak takutnya dia, kadang diapun ndak takut untuk meluruskan kesalahan bapaknya yang jelek ini.

Menurut sudrun dari madura bilang :
“klo wanita muslim se dunia ini ndak pakai jilbab, apa Allah trus ndak pantas disembah ? apa kemudian Tuhan mencak-mencak trus ngeluarin hujan badai 1000 tahun ke alam ini karena mangkel gara-gara kalimatNya di Al-Qur’an ndak direken ? Duh.. Klo Allah kayak gitu, masa’ pantes disembah ?”

Kemudian dia melanjutkan, “tapi klo kemudian ada orang pakai jilbab
trus hidupnya lebih enak, hidupnya lebih tentrem itu bisa jadi karena jilbabnya diikuti dengan sebenar-benarnya jilbab hati. Terhadap yang selain Allah tidak dibuka. Semuanya di tutup dan diberi sekedarnya saja. Hanya wajah saja untuk dunia ini. Sementara seluruh tubuh jiwanya hanya untuk Allah saja. Sehingga tentramlah dia di dunia yang serba ruwet ini.”

Untuk calon istriku :
Jika memang ingin kau pakai jilbab didirimu,
maka pakailah itu…
yang dengan jilbab engkau jadi lebih mencintaiNya daripada mencintaiku
yang dengan jilbab engkau lebih takut padaNya daripada padaku
yang dengan jilbab engkau kenal Tuhanmu
yang dengan jilbab engkau tak menyerah dengan hidup
yang dengan jilbab engkau menjadi kekasih Allah yang sejati.

Medio Malang, 19 Juli 2007
(sebuah jawaban terhadap pertanyaan “bolehkah saya memakai jilbab mas ?”)