Secangkir Teh untuk Musashi

Musashi duduk terpekur dalam keheningan malam.  Dalam hembusan angin malam itu, terasa dingin mencekam dan mengerutkan kulit di tangannya yang kasar. Bekas luka-luka perang nobunaga menguak diantara jari jemari dan lengan badannya. Tersingkap dibalik bajunya yang lusuh, robek ditebas pedang.

Di depannya duduk seorang wanita. Wanita yang telah mengisi hari-harinya dengan sekian cinta dan kasih sayang. Wanita yang merasa dirinya nyaman disamping Musashi dan tentram dibelakang Musashi. Sang wanita ini duduk dengan khidmat di depan Musashi sambil menyeduh teh untuk sang pendekar pedang.
“Hidup sebagai pendekar dengan jalan pedang sangatlah susah. Sekian pertarungan telah kulewati, namun tak juga hati ini tentram menjalani. Setiap kibasan pedang semikin lama semakin hampa. Setiap detik berlalu dengan rasa gulana. Aku pilih hidup ini karena aku yakin bahwa inilah hidupku. Inilah jalan pedangku. Tapi tak juga aku temukan ketentraman hakiki.” Kata musashi dalam hati.
Sebilah samurai panjang tergeletak di samping kanan meja. Samurai kecil tergeletak disampingnya. “dua samurai itu telah memakan korban.. dan dua samurai itu mengantarkanku ke titik ini.” Desah musashi melihat kedua pedang itu.

Wanita itu dengan tekun mengaduk teh yang dipersiapkan untuk sang musashi. Dia bisa tau persis bahwa sang pendekar sedang gundah. Bukan tentang cintanya. Bukan tentang cinta mereka. Tapi tentang hal lain…
“Sekian waktu telah berlalu, namun semakin aku pegang kedua pedang itu, semakin terasa bahwa aku melemah olehnya. Setiap kali kibasan pedang itu, terasa lelah jiwa ini mencari.. Tak ada kata menyerah, namun lelah menyerbu tiada henti.. ” gumam musashi dalam hati.

Semilir angin malam yang terus berhembus mengingatkan musashi akan keadaan ruangan ini. Sebuah ruang kecil sederhana yang tak bisa dianggap mewah. Gubuk cinta mereka terasa terus menaungi mereka berdua. Namun obsesi dan keinginan musashi lebih besar dari sekedar gubuk ini.
Teringat pesan Takuan, seorang pendeta zen yang mengajarkan keseimbangan padanya. Bahwa hidup ini adalah sebuah jalan yang teramat singkat. Namun bagi musashi, jalan ini terasa sangat panjang dan berliku.  Penuh debu dan berbatu. Penuh bencana dan duka. Hanya ada sedikit cinta dan secercah air penghapus dahaga. Dan itupun tidak cukup bagi sang pendekar.

Sang wanita menyodorkan teh racikan cintanya, sambil berharap, teh ini mengusap dahaga kekasihnya yang gundah gulana. Dilihatnya wajah sang kekasih masih saja keras tak bereaksi. Kembali sang wanita duduk terdiam tak bergerak. Tak kecewa, dan tak berharap apa-apa. Hanya khidmat menyelimuti mereka berdua..
“sebuah teh hangat… terhampar di depan.. bersama waktu teh hangat ini terus mengepulkan asap panasnya. Aku tahu bahwa dia berharap aku tersenyum. Tapi.. pantaskah aku tersenyum untuk sesuatu yang seharusnya kuberikan padanya ? Bukankah seharusnya aku yang memberikan padanya secangkir teh yang hangat, sehangat musim semi ? Seharusnya aku berterima kasih padanya, namun saat ini aku sedang bertarung.. tidak dengan dirinya.. tidak dengan pendekar lain.. bahkan tidak dengan cintaku padanya. Aku sedang bertarung dengan diriku. Aku sedang bertarung dengan ambisi, ego dan cita-citanya yang gila dan tak berujung..” desah Musashi sambil melirik teh hangat pemberian kekasihnya.

Tanpa kata, sang wanita tahu bahwa kekasihnya sedang bertarung. Dilihatnya seluruh pori-pori ditangan kekasihnya meremang. Diliriknya nafas satu-satu yang keluar dari lubang hidung sang kekasih bernada perang. Tapi sang kekasih bukan marah padanya. Sang kekasih sedang berproses dengan dirinya.  Dalam kondisi seperti ini, dia tau, yang terbaik adalah menunggu, bersabar dan mendampinginya seperti layaknya seorang wanita yang baik dan patuh. Dan dia yakin, laki-laki di depannya akan memenangkan pertarungan. Jadi.. tanpa khawatir sang wanita tidak berkata apa-apa. Hanya duduk dengan khidmat dan memandang wajah musashi dengan pelan.
“Wajah itu.. wajah itu terus saja mengusap diri dari segala perih hidup ini. Dia tidak pernah menghalangi diri mencari jati diri. Wajah itu tak pernah berlinang airmata ketika aku luka. Hanya mata yang bening memandang dengan tabah dan mengobati luka di hati. Kadang.. aku merasa bahwa dia telah menemukan jalan pedangnya lebih dulu daripada diriku… Kadang ku lihat.. dirinya adalah seorang pemain pedang terhebat yang mengalahkan hatiku.. kadang aku berfikir, bahwa dengan segala kehebatanku, aku telah kalah melawan cintanya.. Dan dia mengalahkanku dengan segala yang dimilikinya.. tanpa pedang.. tanpa pertarungan.. dan aku kalah dengannya..”

Diliriknya kembali 2 pedang yang menghantarkannya ke titik ini. Bulu kuduknya merinding merasakan betapa, dua pedangnya lebih tumpul dibandingkan kedua bola mata wanita di depannya.
“Merebutnya adalah cita-citaku. Tapi tanpa merebutnyapun dia telah datang padaku. Bersanding dengannya adalah cita-citaku. Tanpa kudatangpun, dia mendatangiku. Kuberharap dengan bersamanya, usai sudah pertarungan diri ini. Namun, ternyata dengan bersamanyapun, diriku masih bertarung dengan diriku sendiri.”

Suara air panas yang mendidih memecah sejuta keheningan. Dengan perlahan sang wanita memindahkan teko yang telah panas itu kesamping kiri. Dengan berhati-hati, tanpa banyak suara dan penuh perhatian di tatanya teko dan cangkir yang tak terpakai seperti layaknya sang jendral mengatur pasukan di medan laga.
“Dia.. mengatur sekian cangkir dan teko itu.. seperti sebuah derap langkah pasukan besar yang siap berperang. Tapi bukan untuk melawanku. Teko besar berisi air mendidih di belakang cangkir-cangkir kecil yang tertelungkup. Dengan secawan daun teh yang siap disajikan di apitnya. Sang jendral wanita. Menata sedemikian rupa.. ” ujar musashi sambil menoleh kearah cangkir yang tertata dan teko yang berisi air. “Sepertinya, aku tak harus belajar tentang ilmu pedang darimanapun. Sepertinya dia telah mengajarkanku lebih banyak tentang pedang selama sekian menit ini. Dan sepertinya, aku makin yakin bahwa dari sekian kesalahanku, aku telah memilihnya dengan benar. Sebagai kekasih, sebagai pendamping dan sebagai guru sekaligus muridku.”

Musashi tersenyum kecil. Sang wanita melihat senyuman itu sebagai pertanda pertarungan ini hampir berakhir dan dengan sebuah titik kepastian bahwa kekasihnya memenangkan pertarungan kali ini. Diapun tersenyum kecil, dan dengan khidmat disorongkan kembali secangkir teh buatannya untuk sang pendekar.
Dengan perlahan, sang pendekar mengangkat cangkir teh itu dan dengan hati-hati bagaikan sebuah tarian, secangkir teh itu mendekat ke bibirnya dan membilas semua luka pertarungan kali ini.

Medio Malang, 06 September 2006
Ketika engkau ragu,
maka yakinlah bahwa
secangkir teh cinta merasuk dalam jiwamu.

-taken from : http://pakdhe.febri.web.id/?p=11 –