Prolog : Scholkian Movement

“To invade or to be invaded, that’s the questions….”
Varl Eng
(Chairman of Children of the Sanctuary)

colonies-war-and-beyondSecara logis, sains membuktikan adanya kehidupan sebelum zaman manusia. Dinosaurus sebagai penguasa sebelum manusia dapat dibuktikan keberadaannya melalui penemuan-penemuan arkeologi. The Beasts who walks the earth, hidup dan menguasai bumi hingga munculnya zaman es. Para ilmuwan percaya bahwa kepunahan dinosaurus terjadi karena 3 hal.

  • Terjadinya Badai Meteor hebat yang mengakibatkan perubahan cuaca dan temperatur di seluruh belahan bumi muda.
  • Terjadinya Musim Dingin panjang atau yang sering dikenal dengan istilah Ice Age sebagai akibat dari perubahan drastis struktur meteorologi bumi.
  • Dan munculnya klas Mamalia -termasuk manusia pra-sejarah- yang perlahan tapi pasti mengambil alih posisi puncak rantai makanan..

Secara antropologis, semua kebudayaan kuno dibangun dari hubungan primitif berkelompok, bersuku, hingga munculnya sistem pemerintahan feudalisme awal. Kebutuhan untuk berkumpul guna membentuk society yang lebih kuat memunculkan kepemimpinan dalam berbagai macam bentuk yang paling ekstrim. Kepercayaan akan adanya kekuatan yang lebih besar memaksa manusia untuk berkumpul menjadi satu kesatuan. Kalau memang benar manusia pada zaman itu telah mengambil alih pucuk rantai makanan, lantas mengapa manusia begitu takut hingga terpaksa membentuk satuan-satuan kelompok sosial yang lebih besar ?

Kepercayaan dalam bentuk animisme dan dinamisme, hingga munculnya agama modern dapat dibedah secara aufklarung-logis sebagai ekses dari perkembangan super-ego dan cultural super-ego. Tetapi banyak ilmuwan yang menyangsikan hipotesis super-ego dan cultural super-ego sebagai motif tunggal atau motif utama pembentukan awal peradaban kuno. Salah satu penyangkalan terbesar disampaikan oleh Albert Scholk seorang ahli antropologi terkemuka abad 22 pada pidato penyerahan hadiah nobelnya yang dikenal dengan istilah Scholk 1st Testimony:

Setiap manusia berakal sehat yang dilahirkan dimuka bumi ini dikaruniai 2 anugerah istimewa, cell neutron kelabu (otak) cerdas berdaya deduksi-induksi tinggi, dan hati nurani berjiwa besar. Oleh karenanya tidak mungkin manusia kuno mau di perbudak hingga sekian abad lamanya hanya karena ia percaya bahwa raja/ratu yang memimpinnya adalah anak dewa/dewi matahari. Saya percaya akan eksistensi super-ego dan cultural super-ego di dalam struktur kemasyarakatan, tetapi saya tidak percaya keduanya mampu memaksa ribuan orang rela dan pasrah untuk diperbudak seumur hidupnya. saya percaya bahwa pasti ada sesuatu yang lebih dari sekedar kepercayaan, sesuatu yang riil, sebuah wujud fisik yang tampak oleh kedua mata manusia…

Scholk 1st Testimony menjadi salah 1 landasan awal jalur penelitian anthrosocio-archeology, sebuah field penelitian baru abad 22 yang memfokuskan pada penelitian perkembangan antropologis peradaban kuno, beserta struktur sosiologis dan bukti artefak yang melandasinya. anthrosocio-archeology menjadi satu dari sekian topik popular yang mampu bertahan hingga awal abad 23. Di tengah kebuntuan perkembangan anthrosocio-archeology pada akhir abad 22, adalah Willhem Scholk muda, cucu mendiang Albert Scholk yang menemukan titik cerah dan membuka pandangan baru terhadap pemahaman sejarah peradaban kuno.

Dalam perkembangan hipotesisnya, Willhem Scholk menawarkan apa yang ia sebut sebagai teori The Legendary Beast. Pada penelitiannya Scholk muda memusatkan perhatiannya pada legenda yang diwariskan secara turun temurun oleh semua peradaban kuno yang pernah ada di muka bumi ini. Menurutnya setiap legenda memiliki unsur mistikal pembentuk cultural super-ego-nya masing-masing. Dan setiap unsur mistikal, memiliki dua turunan: kepercayaan dan kepercayaan akan sebuah bentuk fisik. Masyarakat Mesir kuno misalnya, percaya akan eksistensi Ra, Dewi Matahari, sebagai ratunya semua dewa-dewi, masyarakat mesir kuno juga percaya bahwa Ra berwujud manusia berkepala burung. Menurut Scholk, bukanlah ke-dewi-an Ra yang membuat rakyat mesir kuno patuh pada raja mereka, tapi perwujudan Ra sebagai manusia berkepala burung dengan atribut yang benar-benar secara imajinatif melambangkan sosok dewi matahari-lah yang membuat mereka takluk padanya. Pada awalnya teori The Legendary Beast yang membingungkan dan terkesan kurang realistik mendapatkan banyak sanggahan dan cercaan dari masyarakat sains. Willhem sendiri mengaku menemukan banyak kejanggalan dalam memunculkan hipotesisnya, hingga akhirnya 5 tahun setelah publikasi teori pertamanya, Willhem pun merevisi dan mem-publikasikan teori lanjutan yang jauh lebih radikal The Legendary Beast 2 :  Minor God’s Terror.

Dalam hipotesis barunya, Willhem Scholk berupaya melupakan kehadiran atribut perlambangan dan menggantinya dengan apa yang dia sebut sebagai sosok Minor God. Semua kebudayaan kuno memiliki kepercayaan akan kekuasaan yang tak terlihat, sebutlah dewa. Dan semua dewa memiliki perantara, baik dalam bentuk penjaga, manusia titisan dewa, manusia setengah dewa, ataupun pemuka yang menjadi pengikut setianya (semacam nabi dalam agama modern), Scholk menyebutnya The Minor God. Sebagai contoh: kebudayaan Yunani kuno memiliki legenda tentang Herkules, manusia setengah dewa pembela kebenaran, sekaligus Minatour (manusia berkepala banteng), Centaur (manusia berkaki kuda), dan Cyclop (raksasa bermata satu). Mereka semua adalah sosok perantara yang menjaga kelestarian kepercayaan melalui social terror treatment. Rakyat percaya akan keberadaan para dewa, tetapi bagaimana mereka tahu seperti apa (kekuatan) para dewa tersebut? Mereka tidak tahu! Tetapi mereka tahu kekuatan magis para minor god, dan mereka paham bahwa para dewa yang mereka yakini memiliki kekuatan berpuluh atau bahkan beratus kali lipat dari para demigod yang menurut pandangan orang normal sudah sangat kuat dan menakutkan. Secara deduktif-sosial, persepsi ini-lah yang kemudian membentuk kepercayaan terhadap para dewa di masyarakat kebudayaan kuno. Adalah legenda pertarungan antar demigod di bumi-lah yang menghidupkan kepercayaan pada penguasa Olimpus, dan bukan sebaliknya !

Mendekati akhir hayatnya, Willhem Scholk menyempurnakan teori keduanya dengan menambahkan satu unsur bahasan tentang fakta realitas keberadaan para minor god. Hingga akhirnya ia-pun meyakini bahwa makhluk2 legendaris dalam legenda peradaban kuno adalah nyata. Ia percaya bahwa pada satu masa naga, monster, raksasa, dan manusia setengah dewa benar-pernah hidup di bumi. Hal inilah yang kemudian mengucilkan Scholk dari masyarakat sains dan masyarakat luas. Teori The Legendary Beast menjadi salah satu teori paling kontroversial yang pernah dipublikasikan. Dan kontroversi ini semakin memuncak ketika ia pada akhirnya mendapatkan anugerah nobel seperti kakeknya dan menyampaikan pidato legendaris yang sering dikenal dengan istilah Scholk 2nd Testimony :

Pendusta adalah salah satu sifat dasar manusia. Tapi apakah dusta komunal juga merupakan sifat dasar masyarakat beradab? Terlebih ketika dusta itu dilakukan oleh ribuan manusia dalam satu bangsa yang bertahan hingga ratusan tahun hingga membentuk legenda sebuah peradaban! Kepercayaan murni dalam sebuah proses cultural ego tidaklah cukup untuk memunculkan sebuah legenda yang begitu mengikat hingga setiap sudut kota dihiasi oleh patung2 Minor God yang sama…’

Sains seharusnya membebaskan, dan bukannya membatasi. Mahluk-mahluk berbentuk aneh yang terukir pada kuil-kuil dan artefak sejarah tidaklah harus menjadi benda imajinatif hanya karena sains dan kepercayaan manusia akan sains pada masa kekinian belum mampu secara logis memahami keberadaan-nya.Dulupun sains hanya mampu membuktikan bahwa bumi itu datar tetapi toh pada kenyataannya bumi berbentuk bola.Dulupun manusia percaya kalau seluruh alam semesta bergerak mengitari bumi, tetapi toh pada kenyataannya hanya bulan yang bergerak mengitari bumi.

Secara Anthrosocio-archeology mahluk-mahluk dalam legenda haruslah nyata adanya! bisa jadi mereka adalah anomali terhadap proses evolusi mahluk hidup, atau bisa jadi mereka adalah mutasi yang menyimpang dari perkembangan harfiah alaminya. Kini mungkin kita belum mampu memahaminya, tetapi kelak ketika masanya datang, mereka akan bangkit dan kembali mengancam keseimbangan rantai makanan. Dan pada saat itu kitapun dapat melihat sendiri bagaimana naga, monster, dan raksasa memburu manusia untuk santapan malamnya

Seminggu setelah pidato fenomenalnya, Willhem Scholk ditangkap oleh tentara union dengan tuduhan menganut aliran sesat, menghasut, dan membahayakan keamanan umat manusia. Ia dituntut hukuman mati tetapi lolos karena alasan gangguan mental. Ia pun dimasukkan ke pusat rehabilitasi militer dimana ia hidup dan menulis beberapa hipotesis lanjutan hingga akhir hayatnya. 10 tahun setelah meninggalnya Willhem Scholk, Scholkian (movement ilmu yang menganut dasar teori Scholk 1st dan 2nd Testimony) dibubarkan dengan paksa.

Para penganut Scholkian pun terpecah menjadi dua kubu. Kubu pertama mendirikan movement Neo-Scholkian yang lebih moderat dengan merevisi unsur Legendary Beast menjadi unsur Zealotary, semacam dukun beratribut demigod yang dalam proses socio-terror-nya diperkuat dengan ilmu-ilmu alchemy kimia dasar yang memang sudah banyak dipergunakan oleh ilmu-ilmu sihir pada waktu itu. Sementara itu, kubu fanatik yang jauh lebih radikal cenderung memilih untuk bersembunyi dan mengasingkan diri sembari membawa peninggalan Scholk yang terakhir, apa yang sering disebut-sebut sebagai the 3rd Testimony: The Book of Necromancy.

Setengah abad berlalu setelah peristiwa pembubaran Scholkian movement, sebuah pem-beredelan institusi sains, pers menyebutnya sebagai salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah ada. Di tahun-tahun awal pembentukannya, kaum Neo-Scholkian dipojokkan oleh berbagai hipotesis turunan Anti-Scholkian, sebuah movement tandingan yang dibiayai langsung oleh The Union. Salah satu teori Anti-Scholkian yang paling terkenal adalah teori The Vanishing Bones yang diajukan oleh Von Chronos, ilmuwan The Union terkemuka yang sangat percaya pada superioritas ras manusia.

The Legendary Beast hidup bersamaan dengan masa-masa peradaban kuno, sebutlah Yunani kuno (jauh sebelum romawi kuno), atau bahkan kebudayaan atlantis (sebelum Yunani kuno) kalau memang tanah atlantis pernah ada di muka bumi. Secara kronologis, masa tersebut jelaslah masa-masa pasca ice age, sehingga the Legendary Beast tidaklah mungkin berwujud dinosaurus karena dinosaurus sudah sepenuhnya punah pada masa ini.

Katakanlah The Legendry Beast adalah salah satu bentuk anomali dari evolusi dinosaurus, karena biar bagaimana-pun hipoteisis ini sangatlah logis mengingat banyaknya famili dinosaurus yang berukuran raksasa, pertanyaannya adalah: kalau kini kita bisa menemukan dan me-resamble banyak fosil dinosaurus, mengapa dalam ratusan tahun sejarah ilmu arkeologi kita tidak pernah mampu menemukan satupun fosil yang menyerupai sosok The Legendary Beast?

Pertanyaan lain yang harus dijawab oleh para neo-Scholkian adalah dimanakah The Legendary Beast itu sekarang? Kalau dinosaurus punah karena terjadinya zaman ice age, apa yang menyebabkan kepunahan The Legendary Beast? Menurut catatan sejarah manusia, sejak zaman kebudayaan kuno hingga sekarang bumi tidak pernah lagi mengalami masa perubahan cuaca yang se-ekstrim zaman ice age.

Teori The Vanishing Bones Von Chronos praktis menghabisi pergerakkan Neo-Scholkian. Perlahan tetapi pasti publik mulai melupakan Scholk’s Testimonies.

Pada pertengahan abad 23, Perang Dunia ke-3 sudah tidak dapat dihindari lagi. Peperangan yang melibatkan tiga kutub besar dunia The Union, The Brotherhood of Metalgargoyle, dan kaum Necromancer ini pun mencapai puncaknya pada peristiwa Minor Big Bang. Setahun setelahnya manusia-pun menyaksikan naga pertama terbang bebas di langit, mencari mangsanya. Tak lama kemudian umat manusia-pun harus rela lengser dari puncak rantai makanan. Di buru oleh The Legendary Beasts yang bangkit dari tidur panjangnya. Dan para pemuka sains anti-scholkian pun terpaksa mengakui kebenaran teori-teori mendiang Willhem Scholk

(prequel octal-novel Colonies War & Beyond by OSA & me)