Bersediakah anda mengajarkanku ilmu pedang ?

Sebuah surat telah sampai ketangan sang musashi sore ini. Surat dari seorang sahabat, seorang kawan, seorang saudara muda. Seorang anak yang tak lagi kecil. Sebuah surat berisi permintaan yang sangat sederhana. Sebuah surat yang bahkan tidak lebih dari 1-2 baris kalimat. Namun hati sang musashi bergetar.

“Bersediakah anda mengajarkanku ilmu pedang ?” begitulah bunyinya. Ilmu pedang. Jalan pedang. Seorang anak kecil yang pernah mengisi kosong hari-hari sepinya. Seorang anak kecil yang menggantikan kasih sayang orang tua. Seorang anak kecil, yang karena tak punya orang tua, menjadikan musashi orang tua, ayah sekaligus kakaknya. Musashi pernah menolong anak ini dari peperangan desa sebelah.

Hatinya terdiam sejenak. Dia ingat, bahwa dia pernah berjanji pada anak kecil ini akan memberikan satu jurus atau dua jurus agar anak ini tidak lagi menjadi korban pertarungan. Mata anak itu bening dan menunjukkan kegembiraan ketika Musashi menjanjikan hal tersebut. Hampir saja anak itu menjura kekakinya dan menyebut guru padanya. Namun dicegah oleh musashi karena dia merasa belum layak disebut guru.

Sebuah janji untuk mengajarkan satu dua jurus. Ya.. sebuah janji yang sudah 4 tahun lalu dia berikan sekarang datang menguji jalan pedang sang pembuat janji. Musashi terduduk diam membaca surat itu. Angin dingin desa Kyoto mengusap pori-pori tubuhnya.

“ketika aku meragu, engkau datang mengujiku…

“ketika aku tak yakin, engkau datang menikam batin…

“oh… janji.. Sebuah pedang telah terlepas dari sarungnya..

“dan dia menagih darah pemiliknya…

Jalan pedang yang sedang ditapaki oleh musashi saat ini mengujinya benar-benar. Ketika bulan Caitra datang, para pemeluk agama sedang bertapa brata, dan musashi juga menguji fisiknya. Ketika itu juga jalan pedang menjadi membara ditangannya. Ketika digenggamnya pedang, tangan musashi melemah. Terasa panas. Ketika coba dilepaskannya jalan pedang itu, mata orang-orang disekitarnya memandangnya heran, takjub bahkan jijik.

Seorang samurai ? Tanpa pedang ? Tanpa jalan pedang ?

Ha.. ha.. ha… akhirnya musashi tidak lagi pantas menjadi pemain pedang. Lebih pantas menjadi penari saja… Atau bahkan menjadi wanita saja dirinya.. ha.. ha.. ha..

Kasihan dia.. Padahal nasibnya baik pada waktu dulu.. Dari Daimyo Kosugawa, bahkan shogun Asakagi pernah menawarinya menjadi samurai istana, namun ditolak. Sekarang ? Hanya jembel pengais tong sampah. Ah… kasihan..

Seribu, sejuta bahkan lebih mata orang-orang tidak perlu menyampaikan apapun, namun isi dari mata itu bisa dibaca oleh Musashi.

Keyakinan.. harapan bahkan kematian pernah menantangku.

Kemenangan.. keberhasilan.. bahkan kebahagiaan pernah mendatangiku..

namun tak ada yang mampu menentramkan hatiku..

benarkah jalan pedangku ?

Benarkah ilmuku ?

Atau.. ternyata aku bukanlah musashi miyamoto ?

Atau.. bahkan aku bukanlah miyamoto ?

Atau.. jangan-jangan..

Aku telah mati sekian tahun lalu ?

(Malang, Medio ramadhan, 3 Okt 2007, ketika sms BDK datang.)